>

Displaying items by tag: perikanan

Gorontalo, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo Sutrisno mengatakan Balai Benih Udang (BBU) di Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato ditargetkan memproduksi 200 juta ekor benih.

"Jumlah ini sebenarnya masih belum cukup, karena kebutuhan benih di Gorontalo mencapai 500 juta ekor," katanya di Gorontalo, Kamis.

Meski demikian produksi dengan jumlah tersebut, akan sangat membantu petambak yang selama ini masih mendatangkan dari luar daerah dengan harga lebih mahal yakni Rp50 per ekor.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie mengatakan BBU sengaja dibangun di Kabupaten Pohuwato, karena potensi perikanan yang cukup besar di wilayah itu.

Pembangunan BBU diprediksi membutuhkan anggaran Rp20 miliar dan menjadi solusi untuk ketersediaan benih dan udang vaname di Gorontalo.

Sebelumnya, gubernur mendorong para petani membudidayakan udang jenis vaname, karena nilai ekonominya tinggi.

"Udang vaname ini memiliki daya tarik tersendiri, sebab diyakini berkembang dalam kondisi organik atau bebas bahan kimia sehingga peluang masuk ke pasar internasional sangat besar," ujarnya.

Ia mencontohkan di Jepang udang ini dijual dengan harga berkisar 10-15 dolar AS per kilogram.

Di tingkat petani di Indonesia, udang vaname dijual Rp60 ribu-Rp65 ribu per kilogram dengan kondisi utuh masih dengan bagian kepala dan kulitnya.

Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota serta masyarakat memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Kabupaten Pohuwato

Gorontalo, Pemerintah Kota Gorontalo menggandeng Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Gorontalo untuk menguji ada tidaknya kandungan merkuri pada ikan nike (Awaous melanocephalus).

Wakil Wali Kota Gorontalo Budi Doku mengatakan penelitian terhadap ikan jenis tersebut harus segera dilakukan, untuk memberi kepastian keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat.

Ikan nike merupakan ikan kegemaran warga Gorontalo, ukurannya kecil dan hanya dijumpai pada bulan gelap atau bulan mati.

Tiga peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo yakni Nur Wahyuni Mohamad, Femy Sahami dan Citra Panigoro pernah meneliti kandungan merkuri pada nike tahun 2015.

Dalam Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan yang ditulis ketiga peneliti tersebut, disimpulkan bahwa terdapat kandungan merkuri (Hg) pada ikan nike di beberapa sampel di wilayah penangkapan Kelurahan Leato Utara Kota Gorontalo.

Kandungan merkuri pada sampel tersebut sudah melewati batas maksimum yang diperbolehkan untuk konsumsi, dan hanya terdapat pada sampel yang ditangkap di wilayah dekat tubir.

Belum ada penjelasan mengapa nike yang terdapat di area tubir mengandung merkuri.

Sedangkan beberapa sampel lainnya yang ditangkap dekat pantai, menujukkan kadar merkuri masih di bawah batas maksimum yang diperbolehkan untuk konsumsi.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2014 hingga Januari 2015.

Menurut para peneliti, awal peristiwa kontaminasi merkuri terhadap biota laut adalah masuknya buangan industri yang mengandung merkuri ke dalam badan perairan teluk.

Merkuri yang masuk tersebut kemudian berasosiasi dengan sistem rantai makanan, sehingga masuk ke dalam tubuh biota perairan dan ikut termakan oleh manusia.

Efek dari merkuri akan minimbulkan keracunan kronis yaitu melalui jalur pernafasan dan makanan. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Kota Gorontalo

Gorontalo, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan konservasi atau upaya pelestarian terhadap dua jenis ikan yang nyaris punah di Danau Limboto.

"Kami meneliti dan mencoba membudidayakan ikan Manggabai dan Payangga, karena dua jenis ini yang dikhawatirkan akan punah," kata peneliti dari Balai Penelitian, Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Alam KKP di Gorontalo Profesor Krismono.

Menurutnya ikan Manggabai (Glossogobius giuris) dan Payangga (Ophiocora porocephala) diduga merupakan jenis endemik Kawasan Wallacea, yang sering dikonsumsi masyarakat Gorontalo.

Krismono bersama sejumlah peneliti dan mahasiswa membangun sebuah area pembibitan di kawasan danau untuk melihat perkembangan kedua jenis ikan dari kecil hingga dewasa.

"Induk ikan dari danau kemudian kami masukkan ke dalam reservat dan diamati selama beberapa waktu ke depan. Setelah itu kami baru bisa mengetahui langkah selanjutnya untuk membudidayakan ikan ini agar tidak punah," ujarnya.

Konservasi yang dilakukan ada dua cara yakni "in situ" atau dipelihara di dalam habitat asli ikan, serta "ex situ" atau dipelihara di luar habitat aslinya.

"Konservasi ex situ dilakukan teman saya yang lain, dia mencoba membudidayakan ikan-ikan ini di kolam," tambahnya.

Peneliti tersebut mengakui kondisi Danau Limboto sudah kritis, dengan kedalaman hanya sekitar 1-2 meter.

Krismono yang pernah meneliti Danau Limboto tahun 2006-2010 mengungkapkan pada saat itu kedalaman maksimum di perairan danau masih 15 meter pada musim hujan dan hanya lima meter bila musim kering.

"Tapi sekarang kalau surut kedalamannya tinggal 1,5 meter," imbuhnya.

Pada tahun 2009 Badan Lingkungan hidup, Riset dan Teknologi (Balihristi) Provinsi Gorontalo menyatakan empat jenis ikan di Danau Limboto punah.

Keempat jenis ikan air tawar itu masing-masing Mangaheto (seperti bubara berwarna merah), Botua (ikan jenis mujair berwarna putih tanpa sisik), Bulalao (seperti bandeng berwarna putih bersisik) dan Boidelo (mirip ikan tuna bersisik dan berwarna abu-abu).

Danau Limboto merupakan satu dari lima belas danau kritis di Indonesia. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
Selasa, 07 Jun 2016 08:27

Nelayan Kini Punya Rumah Layak Huni

Gorontalo, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, telah meresmikan 75 dari 200 rumah khusus nelayan yang dibangun. peresmian dilakukan di Kelurahan Kayubulan, Kabupaten Gorontalo, akhir pekan lalu (5/6).

Sejumlah rumah khusus nelayan tersebut, dibangun di tiga lokasi, yaitu sebanyak 75 unit degan anggaran Rp11 miliar di Kelurahan Kayubulan , Kecamatan Limboto. Kedua, sebanyak 50 unit degan anggaran Rp7,9 miliar di Kelurahan Buhu, Kecamatan Telaya Jaya. Kemudian di desa Tabumela, sebanyak 75 unit degan anggaran Rp10,9 miliar. Perumahan khusus nelayan ini adalah buah kerja keras Rusli Habibie dengan dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR).

“Dengan rumah khusus ini, saya harap menjadi tempat tinggal yang layak. Rumah bantuan ini saya lihat sangat bagus, berbeda dengan bentuk rumah program Mahyani, jadi tolong di jaga ya, terutama soal kebersihannya,” kata Rusli Habibie, kepada penerima bantuan rumah khusus bagi nelayan di Kelurahan Kayubulan.

Rusli menjelaskan, dia telah menerima laporan dari instansi terkait bahwa masih banyak yang butuh rumah. Karenanya Rusli berjanji akan terus berjuang memperjuangkan nasib rakyat Gorontalo di pusat, khususnya di Kementerian terkait.

“Saya tahu masih banyak yang butuh rumah, tapi akan kita sesuaikan dengan anggaran dari pusat. Agar semuanya merata, saya berjanji terus berjuang agar program rumah khusus nelayan ini ditambah lagi untuk Gorontalo,” jelas Rusli.

Hal senada dikatakan Kadis PU Provinsi Gorontalo Hendri Djuuna, program 200 unit rumah khusus nelayan ini adalah hasil berjuangan Gubernur Rusli Habibie lewat proposal di tahun anggaran 2015 lalu. “Alhamdulillah disetujui PUPR, dan pekerjaanya dimulai tahun 2015 tersebut, dengan proses pekerjaan 150 hari kerja selesai Desember 2015,” kata Hendri.

Sementara itu, bantuan rumah khusus nelayan tersebut memang tidak dilengkapi listrik dan air. Namun demikian, Rusli menambahkan Pemprov akan memasang jaringan listrik disetiap rumah tersebut. Dan dirinya juga meminta pemerintah Kabupaten ambil bagian.

“Siap pak gubernur, karena Pemprov sudah pasang listrik, maka kami (Pemkab) akan pasang air,” jawab Bupati Kabupaten Gorontalo Nelson Pomaligo, yang juga hadir pada peresmian rumah tersebut. (ronald/humas)

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Provinsi Gorontalo akan mengusulkan penetapan status kawasan konservasi hiu paus di Desa Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango.

Kepala DPK Sutrisno mengatakan akan membahas hal itu dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga terkait dan akan didampingi oleh Whale Shark Indonesia (WSID), World Wildlife Fund (WWF) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar.

"Kami belum memutuskan status apa yang cocok dengan kawasan Botubarani, apakah suaka alam atau taman nasional. Langkah pertama kami bentuk kelompok kerja konservasi hiu paus dulu dan akan melibatkan semua unsur terkait, lengkap dengan uraian tugas dan tanggungjawabnya," kata Sutrisno saat Lokakarya Hiu Paus di Gorontalo, Kamis.

Mekanisme penetapan status tersebut membutuhkan waktu panjang, karena harus mendapatkan rekomendasi gubernur dan mengajukannya ke kementrian.

"Kami akan menyatukan kelembagaan pengelola kawasan wisata hiu paus, karena selama ini belum ada pengelola yang memiliki izin resmi. Kami juga menginisiasi pembentukan koperasi pengelola, targetnya SK gubernur keluar minggu kedua Juni 2016," ungkapnya.

Peneliti dari Whale Shark Indonesia (WSID) Mahardika Rizqi Himawan, bersama Cassandra Tania dari WWF memaparkan hasil penelitiannya tentang hiu paus di Botubarani dalam lokakarya tersebut.

Penelitian tersebut menemukan ada 17 individu yang teridentifikasi di perairan Botubarani, berkelamin jantan semua, dengan panjang dominan 5-5,9 meter.

"Lebih dari 50 persen hiu paus di Botubarani mengalami luka pada tubuh dan sekitar mulut. Juga ada cat pada mulut," katanya.

Kemunculan hiu paus lima ekor perhari dengan jumlah pemberian makan 104 kilogram perhari.

Satu ekor hiu paus makan kulit dan kepala udang sekitar 8-16 kilogram perhari dengan rasio tertelan 40-80 persen.

"Sudah ada aturan berinteraksi yang diterapkan kepada pengunjung, tapi kami menilai perlu ada pembenahan sehingga penetapan kawasan konservasi di perairan ini penting untuk menjaga kelangsungan hidup hiu," tambahnya. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
Jumat, 27 Mei 2016 08:21

214 Perahu Motor Tempel untuk Gorontalo

Gorontalo, Provinsi Gorontalo mendapatkan bantuan sebanyak 214 unit perahu motor tempel dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2016, guna disalurkan ke nelayan yang membutuhkan.

"Dengan kehadiran bantuan perahu motor tempel ini, diharapkan tidak ada lagi nelayan melakukan aksi pemboman ikan di perairan Gorontalo," kata Gubernur Gorontalo, Kamis.

Dari bantuan ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo akan memprioritaskan bagi masyarakat nelayan yang ada di Kabupaten Gorontalo Utara.

"Bantuan akan diprioritaskan bagi nelayan dipesisir pantai Gorontalo Utara, tapi dengan catatan tidak ada lagi pemboman ikan di wilayah itu," kata gubernur.

Ia menambahkan, sesuai hasil laporan masih ada sebagian masyarakat yang menggunakan bom ikan dan turut merusak biota laut, sehingga Gubernur meminta kepada nelayan untuk tetap menjaga lingkungan, khususnya terumbu karang dan ekosistem di laut itu sendiri.

Pemprov Gorontalo akan memprioritaskan bagi masyarakat nelayan di Kabupaten Gorontalo Utara, mengingat garis pantai di kabupaten tersebut sangat panjang, kurang lebih 315 Kilometer, yang rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan.

"Dari 214 unit perahu motor tersebut 50 unit akan diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara untuk didistribusikan langsung ke nelayan," katanya.

Gubernur juga berharap kepada Pemerintah Kabupaten Gorontalo untuk segera menyeleksi calon penerima bantuan secara profesional dan selektif, terutama mereka yang mampu menjadi kelesatarian laut dan berjanji untuk tidak merusak terumbu karang.

"Kalau perlu penerima bantuan perahu motor tempel ini melaporkan kepada pemerintah jika menemukan nelayan yang masih menggunakan bom ikan," ujarnya. (Farid - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo Sutrisno mengatakan, kementrian kelautan akan mendirikan pasar ikan online, untuk memasarkan hasil tangkapan nelayan di Indonesia.

Menurutnya pasar tersebut akan membantu nelayan dalam memasarkan produk perikanannya, dengan cepat dan mudah.

Ia mengungkapkan daerah tersebut memiliki prospek cerah dalam sektor perikanan, karena ditunjang oleh adanya teluk dan bentang pesisir yang panjang.

Data dinas tersebut menunjukkan hasil perikanan laut mencapai 95.991 ton setahun dengan 8.413 rumah tangga perikanan.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sempat mengutarakan rencana pasar ikan online, kepada sejumlah nelayan di Desa Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango beberapa waktu lalu.

"Untuk pemasaran, kami akan buat pasar ikan online. Nanti ikan di pelabuhan Jakarta misalnya bisa dipantau oleh pembeli dari daerah lain. Akan mudah diketahui kuantitas dan jenis ikan yang diperdagangkan," ungkapnya.

Namun demikian, ia meminta seluruh nelayan menghidupkan kembali setiap tempat pelelangan ikan maupun pelabuhan perikanan yang ada di sekitarnya.

"Setiap ikan yang masuk akan dicatat, sehingga data-data dari setiap pelabuhan akan masuk ke kami. Dengan data inilah pasar ikan online bisa segera terealisasi," tambahnya.

Ia juga meminta nelayan untuk bersabar jika mengalami kendala pemasaran, karena saat ini pihaknya menggandeng dua BUMN yakni Perindo dan Perinus sebagai penyangga produk perikanan di Indonesia.

Selain pasar, Susi berjanji akan memberikan bantuan 214 kapal untuk nelayan di Gorontalo yang akan didistribusikan tahun ini.

Ia menambahkan, dalam 1,5 tahun terakhir nilai tukar nelayan merangkak naik, dari 102 menjadi 110.

Susi menilai hal itu menjadi prestasi luar biasa di kementeriannya, karena pada saat yang sama sektor lainnya justru mengalami penurunan.

"Produk Domestik Bruto perikanan tahun 2015 kuartal terakhir tercatat 8,96 persen yang sebelumnya hanya berkisar 6-7 persen. Ini terjadi setelah kami berhentikan kapal-kapal asing mencuri ikan di Indonesia," imbuhnya. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo Sutrisno mengatakan dalam kurun tahun 2011-2015, produksi perikanan di daerah tersebut mengalami kenaikan sebesar 8,38 persen.

"Kenaikan ini terjadi dengan rata-rata produksi sebesar 92.494 ton," katanya di Gorontalo, Kamis.

Ia menjelaskan hasil perikanan terbesar di Gorontalo berasal dari budidaya perikanan darat, dengan produksi 115.477,39 ton, atau sebesar 54,36 persen dari keseluruhan produksi sebesar 212.427,50 ton.

Selain itu, hasl perikanan laut mencapai 95.991 ton dengan 8.413 rumah tangga perikanan.

"Luas areal rumput laut di Gorontalo sekitar 14.250 hektare, dengan produksi 99.454,4 ton," imbuhnya.

Sedangkan luas areal perikanan tangkap kurang lebih 50.500 kilometer persegi, dengan potensi 92.171 ton.

Sutrisno mengatakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan tahun 2010 di Gorontalo mengalami pertumbuhan 8,15 persen sepanjang 2013-2014.

"Hal ini menunjukkkan adanya peningkatan daya beli atau purchasing power dari pelaku sektor perikanan," tambahnya.

Menurutnya, sektor perikanan di daerah itu memiliki potensi besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Terkait kapal penangkap ikan, ia mengungkapkan saat ini 21 kapal di Gorontalo mendaratkan hasil lautnya di empat Pelabuhan Perikanan yakni Kwandang, Inengo, Tilamuta dan Gentuma.

Sementara alat tangkap yang paling banyak digunakan nelayan adalah pukat cincin (purse seine) dan hand line tuna.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim mengatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan kajian, untuk merumuskan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang areal penangkapan ikan.

"Kami akan segera menindaklanjuti saran dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat beliau ke Gorontalo soal areal penangkapan ikan," katanya belum lama ini.

Ia menilai perda tersebut penting untuk menjaga kelestarian ekosistem laut agar populasi ikan di Provinsi Gorontalo terus melimpah.

"Tanpa ada regulasi yang mengatur batasan areal penangkapan ikan, mustahil hal ini bisa diatur dengan baik," imbuhnya. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Sejumlah nelayan di Gorontalo mendukung rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan yang akan mengoperasikan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) berjalan di laut.

"Selama ini salah satu kendala kami melaut adalah BBM. Yang terdekat adalah depot-depot kecil yang dijual ukuran botol dengan harga jauh lebih mahal," kata Abdul Latif, nelayan di pesisir Kabupaten Bone Bolango, Kamis.

Ia berharap SPBU berjalan bisa dinikmati di daerah tersebut, agar nelayan tidak beralih profesi menjadi sopir becak motor (bentor).

"Banyak nelayan yang memilih jadi sopir bentor, karena pekerjaan ini dianggap tidak menjanjikan. Namun sebagian tetap memilih mencari ikan, minimal untuk dikonsumsi," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti ketika berkunjung ke Gorontalo belum lama ini mengatakan, pihaknya berencana untuk mengoperasikan pom bensin keliling di perairan untuk melayani nelayan.

Ia mengungkapkan beberapa waktu lalu TNI Angkatan Laut menangkap penyelundup minyak, yang membawa 15 kapal tanker asing di perairan Indonesia.

"Sudah diputuskan tidak akan dilelang tapi disita untuk negara, nanti dibikin pom bensin jalan di laut supaya nelayan lebih mudah," tukasnya saat berkunjung ke Gorontalo beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Provinsi Gorontalo mendapatkan jatah 214 kapal dari 3.500 unit yang akan dibagikan Kementerian KP.

Susi mengatakan kapal itu untuk membantu nelayan mendapatkan ikan lebih banyak sehingga bukan nelayan asing yang menikmati ikan-ikan di perairan Indonesia.

"Selama sepuluh tahun terakhir, ribuan kapal-kapal dari negara tetangga mengambil ikan di laut kita. Setiap hari sepanjang tahun. Yang parah lagi, mereka pakai bahan bakar minyak dari kita," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa nelayan Indonesia sering kali kesulitan mendapatkan BBM, sementara kapal asing membawa ribuan ton BBM untuk mencuri ikan. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim mengatakan bahwa hasil dari sektor kelautan dan perikanan, menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di daerah tersebut.

Untuk sektor tersebut, pemerintah memberikan dukungan melalui alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang dinilainya cukup besar.

"Pada tahun 2012 sampai 2016 anggarannya mencapai 237,7 miliar rupiah atau meningkat 66 persen dari anggaran lima tahun sebelumnya," katanya di Gorontalo, Senin.

Dari alokasi anggaran tersebut, 70 persen diantaranya untuk belanja langsung ke masyarakat nelayan.

Langkah itu, lanjutnya, dianggap berhasil menggenjot produksi perikanan tangkap yang pada tahun 2015 mencapai 105.715 ton, meningkat 2,62 persen dari tahun 2014.

Dari sisi kesejahteraan, ia menjelaskan Pemerintah Provinsi Gorontalo telah melaksanakan program pengembangan desa nelayan tangguh sejumlah 42 desa, menyalurkan bantuan kapal Inka Mina dan Mina Maritim yang sampai tahun ini sudah mencapai 50 unit, pembangunan 13 Tempat Pelelangan Ikan dan 4 pelabuhan perikanan, serta 1 pelabuhan nusantara.

"Untuk program budidaya, Pemerintah Provinsi Gorontalo mengembangkan budidaya ikan air laut, tawar, dan payau," ujar Wagub.

Ia menambahkan pemerintah dan masyarakat Provinsi Gorontalo berharap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menambah alokasi anggaran ke Gorontalo, untuk peningkatan di sektor itu.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyerahkan bantuan untuk nelayan di Gorontalo, Sabtu (14/6) sebesar Rp3,5 miliar.

Bantuan tersebut untuk kelompok nelayan binaan dalam Program Coastal Community Development Project di daerah tersebut.

Selain itu, Susi menyerahkan bantuan mesin pakan lengkap dan bahan baku pakan senilai Rp100 juta, serta dana untuk pelatihan pemeliharaan alat tangkap ikan jaring (gillnet) 30 orang senilai Rp91 juta.

Bantuan lainnya adalah dana kegiatan penyuluh perikanan untuk 55 orang sebesar Rp376 juta, dan 50 paket masker dan snorkel kepada Komunitas Sadar Wisata Hiu Paus di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
© 2020, Pemerintah Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kelurahan Botu
Kota Gorontalo - Gorontalo

Menu Utama