>
Selasa, 29 Oktober 2019 00:01

Almarhum BJ Habibie Mendapat Garai Ta Lopo Lolade Tilango

Oleh
Beri rating
(0 suara)
 Suasana proses pemberian “Gara’i” kepada almarhum BJ Habibie di kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta, Senin (28/10/2019). Gara’i merupakan proses adat Gorontalo untuk menyematkan gelar adat kepada orang yang sudah meninggal dan meninggalkan jasa-jasa besar bagi negeri. Pihak keluarga BJ Habibie diwakili oleh putra sulungnya Ilham Akbar Habibie. (Foto Jusni-BPPG). Suasana proses pemberian “Gara’i” kepada almarhum BJ Habibie di kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta, Senin (28/10/2019). Gara’i merupakan proses adat Gorontalo untuk menyematkan gelar adat kepada orang yang sudah meninggal dan meninggalkan jasa-jasa besar bagi negeri. Pihak keluarga BJ Habibie diwakili oleh putra sulungnya Ilham Akbar Habibie. (Foto Jusni-BPPG).

JAKARTA  – Wafatnya Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) pada 11 September 2019 lalu masih meninggalkan duka bagi bangsa Indonesia. Tidak terkecuali bagi masyarakat Gorontalo, tempat nenek moyangnya berasal.

Untuk menghormati jasa Presiden ke-3 RI itu, dewan adat beserta lima lembaga adat Gorontalo menganugerahi BJ Habibie dengan gelar adat “Ta Lopo Lolade Tilango”. Penganugerahan “Gara’i” dilaksanakan pada prosesi “Hileyiya Wopato Pulu Huyi” atau doa arwah hari ke-40 yang berlangsung di kediaman almarhum Patra Kuningan, Jakarta, Senin (28/10/2019).

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga almarhum atas sambutan dan dukungannya sehingga upacara adat ini bisa terlaksana, terima kasih juga kepada seluruh pihak yang telah membantu mensukseskan kegiatan ini,” ungkap Gubernur Gorontalo Rusli Habibie selaku “Tauwa lo Lipu” atau pemimpin negeri.

Semasa hidup, BJ Habibie sudah memiliki “Pulanga” atau gelar adat Gorontalo. Mantan Menristek era Soeharto itu dianugerahi gelar adat “Ti Tilango lo Madala” yang bermakna Cahaya Negeri. Pemberiaan Gara’i melengkapi penghargaan orang Gorontalo kepada salah satu putra terbaiknya itu.

Berbeda dengan Pulanga, Gara’i diberikan kepada orang yang telah meninggal atas jasa-jasanya. Gara’i tidak harus pejabat atau mantan pejabat, tapi siapa saja yang punya karya besar yang diharapkan bisa menginspirasi orang yang masih hidup.

Gara’i “Taa Lopo Lolade Tilango” bermakna putra terbaik yang dapat menyebarluaskan perwujudan ilmu dan teknologi serta tokoh yang diakui oleh internasional. Lima negeri adat atau “Ulimo lo Pohalaa” yakni Suwawa, Limboto, Gorontalo, Atinggola, dan Bulango sepakat memberikan gelar adat tersebut pada almarhum.

 “Saya mewakili seluruh masyarakat Gorontalo menyampaikan belasungkawa atas kepergian beliau, dan turut mendoakan semoga seluruh amal ibadah almarhum diterima disisi-Nya,” doa Rusli.

Selain dihadiri oleh keluarga besar almarhum dan pemangku adat, pemberian Gara’i dihadiri oleh Wakil Bupati Boalemo Anas Jusuf dan Wabup Gorut Thariq Modanggo.

Hadir juga tokoh-tokoh Gorontalo di  Jakarta seperti mantan Menpora Adhyaksa Daud dan Henki Uno, ayah dari Sandiaga Uno.

 

Pewarta: Jusni - Humas

Baca 223 kali

Tinggalkan komentar anda

Pastikan anda mengisi semua kolom yang bertanda asterik (*). Tidak boleh menggunakan Kode HTML.

© 2020, Pemerintah Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kelurahan Botu
Kota Gorontalo - Gorontalo

Menu Utama