>
Jumat, 15 November 2019 20:42

Mengenakan Busana Karawo Rusli Habibie Tampil Beda di Antara Kepala Daerah Se-Indonesia

Oleh
Beri rating
(0 suara)
 Gubernur Gorontalo Rusli Habibie (tengah, baris ketiga) saat foto bersama dengan Presiden Jokowi, sejumlah menteri dan kepala daerah se Indonesia, Kamis (14/11/2019). (Foto istimewa). Gubernur Gorontalo Rusli Habibie (tengah, baris ketiga) saat foto bersama dengan Presiden Jokowi, sejumlah menteri dan kepala daerah se Indonesia, Kamis (14/11/2019). (Foto istimewa).

JAKARTA  – Ada yang menarik pada penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2020 yang berlangsung di Istana Negara, Kamis (14/11/2019). Usai Presiden menyerahkan DIPA kepada para gubernur, mereka lantas foto bersama di halaman Istana.

Kala itu para gubernur se-Indonesia kompak berseragam batik. Begitu pula dengan Presiden Jokowi dan Mendagri Jenderal (Purn) Tito Carnavian yang ikut mendampingi. Beberapa di antaranya menggunakan songkok nasional berwarna hitam.

Pemandangan menjadi kontras ketika pandangan diarahkan ke Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. Dengan kemeja berwarna kuning, Rusli percaya diri menggunakan kain sulaman tangan karawo, kain khas Gorontalo. Lengkap dengan upia karanji (songkok anyaman) yang sudah menjadi ciri khasnya selama ini.

“Karawo dan upia karanji khas daerah. Ini sudah saya gunakan sejak tahun 2017, termasuk mewajibkan kepada pegawai saya untuk dipakai setiap hari. Khusus kain Karawo kita gunakan setiap hari Kamis dan acara-acara resmi,” ucap Rusli Habibie.

Lebih lanjut mantan Bupati Gorontalo Utara itu menjelaskan, upia karanji dan karawo harus terus digemari dan dipromosikan tidak saja skala lokal tapi juga nasional. Selain sebagai ciri khas juga diharapkan semakin diminati oleh daerah lain.

“Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Saya juga bersyukur kemarin Pak Gubernur Bank Indonesia (BI) saat hadir di acara ISEF 2019 menggunakan karawo. Ini menunjukkan kain karawo semakin diperhitungkan,” sambungnya.

Kain karawo merupakan kain tradisional khas Gorontalo. Dulu saat belum pisah dari Provinsi Sulawesi Utara, masyarakat mengenalnya dengan sebutan kain Kerawang dan lebih banyak dipasarkan di Kota Manado. Belakangan kain yang proses penyulamannya butuh ketelitian dan kehati-hatian itu dikembalikan ke nama aslinya yakni karawo atau sulaman.

Sementara itu, sejak diberlakukan aturan penggunaan upia karanji bagi setiap ASN Pemprov Gorontalo maka nilai jual songkok dari ilalang itu semakin meroket. Dulu harga upia karanji dengan kualitas anyaman yang biasa dihargai paling mahal Rp50.000,-.

Saat ini, upia karanji dengan kualitas biasa dijual dengan harga Rp100.000,- hingga Rp150.000,-. Jika kualitas, motif dan kepadatannya yang terbaik maka bisa dijual dengan harga Rp350.000,- hingga Rp500 000,-.

 

Pewarta: Isam - Humas

Baca 22 kali

Tinggalkan komentar anda

Pastikan anda mengisi semua kolom yang bertanda asterik (*). Tidak boleh menggunakan Kode HTML.

© 2019, Pemerintah Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kelurahan Botu
Kota Gorontalo - Gorontalo