>

Gorontalo, Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan penanganan wabah anthrax di bisa selesai dalam waktu cepat dan tidak ada lagi penularan ke manusia.

"Kami targetkan awal Juni Gorontalo sudah bebas dari anthrax," kata Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah di Gorintalo, Senin.

Menurutnya, pemprov akan segera membentuk tim terpadu yang melibatkan seluruh instansi terkait, serta TNI dan POLRI.

Dari data yang dihimpun Pemprov Gorontalo, jumlah warga yang telah tertular bakteri Anthrax di daerah tersebut mencapai 35 orang.

Angka itu terdiri dari 33 orang di Kabupaten Gorontalo dan 2 orang di Kabupaten Bone Bolango.

"Dampak merebaknya wabah anthrax ini sangat merugikan masyarakat karena selain sudah mengancam jiwa masyarakat, juga berimbas pada masalah ekonomi para pedagang daging.

"Jika tadinya dalam sehari penjual daging bisa menjual empat sampai lima ekor, sekarang satu ekor pun susah laku," ungkap Wagub.

Karena itu, lanjutnya, sejak awal merebaknya Anthrax, pihaknya bersama pemerintah kabupaten dan kota segera mengambil langkah-langkah antisipatif dengan melakukan vaksinasi, sosialisasi, serta membakar ternak sapi yang positif .

"Kami juga memperketat penjagaan di pos-pos perbatasan untuk mengantisipasi masuknya sapi dari luar daerah, yang kemungkinan sudah tertular Anthrax," jelasnya.

Ia juga meminta seluruh dinas terkait mengintensifkan kegiatan penyuluhan dan memaksimalkan pengawasan lalu lintas ternak antar kabupaten dan kota, serta antar provinsi.

Selain itu juga memastikan peredaran daging yang aman, sehat, utuh, dan halal dengan mendorong pemotongan sapi pada Rumah Potong Hewan (RPH).

"Media massa juga harus dilibatkan untuk memberikan informasi yang benar terkait anthrax, agar tidak menimbulkan keresahan berlebihan dalam masyarakat," tambahnya. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Wakil Gubernur Gorontalo, Idris Rahim mengharapkan ada langkah-langkah strategis yang dilakukan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) setempat, untuk menanggulangi penyebaran HIV/Aids di daerah itu.

 

"Diantaranya dengan melibatkan dan memaksimalkan peran aparat pemerintahan desa. Yakni aparat pemerintahan desa dibekali dengan pemahaman dan pengetahuan seputar masalah penularan dan penanggulangan HIV/Aids," Kata wagub pada workshop peduli Aids di Gorontalo, Selasa.

 

Ia menjelaskan, jumlah penderita HIV/Aids di Provinsi Gorontalo saat ini sudah mencapai 215 penderita, dan ini sudah masuk dalam kategori berbahaya dan sangat mengkhawatirkan.

 

Oleh karena itu, penanganan dan penaggulangannya pun tidak bisa lagi hanya diserahkan kepada KPA, tetapi harus melibatkan seluruh aparatur hingga ke pemerintahan tingkat desa.

 

"Sebagai aparat yang berhubungan langsung dengan masyarakat, aparat pemerintahan desa diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam mensosialisasikan bahaya penyakit HIV/Aids," ujarnya.

 

Aparat desa juga dapat bersinergi dengan KPA jika diantara masyarakatnya ada yang terindikasi mengidap HIV/Aids.

 

Wagub mengharapkan adanya alokasi dana untuk kegiatan sosialisasi HIV/Aids hingga ke tingkat desa yang bersumber dari anggaran dana desa atau pos lainnya.

 

Dijelaskanya, masalah HIV/Aids adalah salah satu persoalan penting bangsa Indonesia yang tidak boleh dianggap remeh, karena bisa mengancam generasi muda. karenanya dibutuhkan upaya maksimal dengan melibatkan seluruh potensi termasuk dalam sisi anggaran untuk penanggulangan HIV/Aids.

 

"Anggaran dana desa itu besarannya berkisar antara Rp1 miliar bahkan ada yang lebih, tidak ada salahnya disisihkan sebagian untuk anggaran penanggulangan dan pencegahan HIV/Aids," pungkasnya.

 

Berdasarkan data KPA Provinsi Gorontalo hingga periode April 2016, dari 215 penderita HIV/Aids, 82 diantaranya adalah penderita HIV dan sisanya 133 penderita Aids. (Farid - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Lima warga Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo yang diduga kena antraks kulit, masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan di laboratorium Maros, Sulawesi Selatan.

 

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Arfan Boludawa, Selasa mengatakan, hingga saat ini melalui gejala klinis sudah lima orang menjadi terduga anthrax yang terjangkiti dari ternak sapi yang sebelumnya menderita penyakit itu.

 

"Anthrax kalau ke manusia yang kena kulit, sebanyak dua orang, awalnya gatal, kemudian seperti melepuh dan berwarna hitam," kata Arfan.

 

Ia mengatakan untuk temuan kasus pertama manusia terjangkit penyakit itu, korban sebagai pemilik ternak sapi dan menyembelih kemudian mengolah daging yang sakit dan terduga anthrax.

 

"Untuk terduga lainnya yaitu dua ibu hamil, mereka sempat mengolah dan mengkonsumsi daging kerbau yang diperoleh dari korban pertama," ungkap Arfan.

 

Ia menambahkan, kedua warga tersebut dicurigai terkena anthrax karena sudah mengalami gelaja demam, sakit kepala dan gangguan pernafasan.

 

Selain itu, ada bayi berusia enam bulan, mengalami kejang dan diare hebat.

 

"memang di rumahnya ada yang mengolah dan mengkonsumi daging tersebut, namun kami masih mendalami hal ini," tutup Arfan.

 

Di kabupaten Gorontalo, sekitar 40 ekor lebih hewan ternak seperti sapi dan kerbau yang mati karena sakit dan diduga terkena bakteri anthrax. (Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, Sebanyak 1.500 ternak sapi milik warga di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, telah divaksin oleh pemerintah daerah setempat, guna mencegah penyebaran bakteri anthrax.

Wakil Bupati Gorontalo, Fadli Hasan, Senin, mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo telah mengambil langkah cepat dengan turun ke lapangan melakukan vaksinasi ternak sapi, karena sebelumnya beberapa sapi dan kerbau mati akibat penyebaran bakteri itu, termasuk beberapa warga yang ikut terjangkiti.

"Kami menyediakan 5.000 dosis vaksin anti antrax dan hingga sekarang sudah 1.500 sapi yang telah diberi vaksin," ucap Fadli saat mendatangi lokasi vaksinasi di Kelurahan Dutulanaa.

Menurutnya, pemberian vaksin kepada ternak warga melalui tim petugas kesehatan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Gorontalo akan digenjot.

"Target kami adalah secepatnya 5.000 dosis vaksin tersebut cepat tersalurkan agar bakteri anthrax ini tidak menyebar luas," katanya.

Wakil bupati juga mengatakan bahwa akibat dari bakteri anthrax, sapi dari Kabupaten Gorontalo untuk sementara belum dikirim keluar kota untuk proses jual beli.

"Hal itu merupakan tindakan preventif dari Pemnkab Gorontalo agar anthrax tidak meluas ke daerah lain dan akan diselesaikan di daerah ini," tutup Fadli. (Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, Sebanyak 79 ekor sapi milik warga di Desa Tabumela, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, diberi vitamin dan disuntik vaksin anti antraks.

 

Pemberian vitamin dan vaksin tersebut merupakan langkah pencegah penyebaran virus antraks yang dilakukan oleh Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, Minggu.

 

Belasan warga pemilik sapi terlihat sangat antusias dan beramai-ramai membawa sapi ternak miliknya untuk divaksin dan diberi vitamin.

 

Dokter hewan Asrieana Dunggio dari Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, mengatakan hingga saat ini kurang lebih telah 1.000 ekor sapi telah diberi vitamin dan vaksin.

 

"Sapi di Desa Tabumela hingga saat ini belum ada laporan terdapat sapi sakit ataupun mati karena antraks, namun kegiatan ini merupakan langkah pencegahannya," ucapnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) kabupaten Gorontalo, mengatakan masih banyak lokasi yang akan di datangi oleh petugas kesehatan hewan untuk melakukan vaksinasi.

 

"Sejak minggu lalu, tim dokter hewan DKPP telah melakukan pengobatan kepada sapi yang sakit dan melakukan vaksinasi kepada sapi sehat agar kebal terhadap penyakit, salah satunya anthrax," katanya. (Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, Guna mencegah penyebaran penyakit anthrax bagi ternak milik warga di Provinsi Gorontalo, Wakil Gubernur Idris Rahim telah menginstruksikan instansi terkait memperketat masuknya sapi dari luar daerah.

 

"Untuk pasokan sapi dari luar Gorontalo, kita optimalkan pos-pos pemeriksaan yang ada diperbatasan, guna menghindari masuknya Anthrax ke Provinsi Gorontalo," kata Idris, Sabtu.

 

Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui dinas peternakan dan dinas kesehatan telah mengambil langkah antisipastif dengan melakukan pemeriksaan dan penelitian ke beberapa lokasi peternakan di kabupaten/kota.

 

"Secepatnya kita akan publikasikan hasil penelitian itu, biar masyarakat tetap tenang mengkonsumsi daging. Namun dalam pernyataan Dirjen Peternakan Kementan RI juga telah menyampaikan bahwa kasus Anthrax ini belum menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Gorontalo," ujar Wagub.

 

Wagub juga mengimbau kepada masyarakat Provinsi Gorontalo untuk tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang terkait dengan mewabahnya anthrax di Provinsi Gorontalo.

 

Ia menambahkan, pemerintah tentunya tidak akan tinggal diam dan aparat pemerintah sebagai abdi negara dan abdi masyarakat tentunya akan selalu melindungi masyarakat dari berbagai ancaman termasuk anthrax ini.

 

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo, Provinsi Gorontalo kembali memusnahkan ternak kerbau milik warga yang diduga mengidap bakteri anthrax.

 

Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, Harris Tome mengatakan, pemusnahan kerbau yang sakit akibat anthrax dengan cara dibakar.

 

"Kerbau yang menderita anthrax tersebut adalah milik dari warga inisial EA (45) yang merupakan pasien pertama terduga anthrax kulit akibat kena darah kerbau miliknya yang disembelih beberapa hari yang lalu," ungkap Haris. (Farid - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
Senin, 25 April 2016 08:29

Gorontalo Berupaya Putus Rantai Antraks

Gorontalo, Provinsi Gorontalo tiba-tiba dikagetkan dengan kejadian luar biasa, penyebaran penyakit antraks yang selama ini hanya didengar melalui siaran TV nasional atau media lainnya, kini sudah ada di daerah penghasil jagung tersebut.

Bahkan penyebaran bakteri antraks (Bacillus anthracis) dari ternak sapi atau kerbau ini sudah menjalar ke manusia, bahkan sudah dinyatakan positif oleh pihak terkait.

Dua warga Kelurahan Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo menjadi terduga (suspect) antraks dan dirawat secara intensif di Rumah Sakit Aloe Saboe (RSAS) Kota Gorontalo.

Kedua terduga berinisial EA (45) dan SL (23) sudah dirujuk ke rumah sakit untuk menjadi langkah awal pencegahan oleh pemerintah, sehingga mendapat penanganan secara serius sekaligus tidak terjadi lagi ke warga lainnya.

"Dengan adanya temuan ini, kami mengimbau kepada masyarakat agar tidak menyembelih hewan ternak yang sakit, karena masih akan diberikan vaksin kepada sapi ternak yang sehat agar kebal terhadap bakteri anthrax," kata Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, Haris Tome, Sabtu.

Dua warga terduga antraks itu mengakui kalau mereka menyembelih sapi dalam keadaan sakit.

Salah seorang terduga antraks, EA mengatakan awalnya ia menyembelih sapi miliknya yang telah menderita sakit selama empat hari.

"Saat menyembelih sapi yang sakit itu, tangan saya terkena darahnya. Awalnya tangan saya gatal-gatal lalu mulai timbul benjolan-benjolan kecil dan berwarna hitam," katanya.

Ia mengatakan, usai disembelih daging sapi diminta oleh warga sekitar untuk dikonsumsi.

Hal serupa dikatakan oleh SL, katanya saat temannya ED menyembelih sapi tersebut, ia juga turut membantu dan terkena darah sapi.

"Usai menyembelih sapi, saya juga ikut memakan dagingnya dengan cara dibuat sate, awalnya saya tidak curiga, karena warga lain juga ikut memakannya, namun setelah itu, kaki saya mulai gatal," ungkapnya.

EA dan SL merupakan korban manusia pertama yang menjadi terduga antraks di Gorontalo, karena selama ini hanya hewan ternak saja yang terkena bakteri antraks.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Roni Sampir mengatakan dari kedua warga tersebut, pihaknya menemukan gejala gejala-gejala antraks.

"Setelah dirujuk di rumah sakit akan kita ambil serumnya dan akan dikirim ke subdit zoonosis di Jakarta untuk diperiksa," ucap Roni.

Menurutnya, dari gejala sudah mengarah ke antraks, namun untuk penegakkan diagnostik harus ada gejala klinis dan laboratorium.

Roni juga mengatakan telah melakukan koordinasi lintas sektor bersama Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, dan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo serta Rumah Sakit Aloe Saboe sebagai tempat rujukan untuk kasus antraks.

Berdasarkan rangkuman data menyebutkan, antraks adalah penyakit menular akut dan sangat mematikan yang disebabkan bakteri "bacillus anthracis" dalam bentuknya yang paling ganas.

Antraks bermakna "batubara" dalam bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam.

Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan, penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia, namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia.

Manusia dapat terinfeksi bila kontak dengan hewan yang terkena anthraks, dapat melalui daging, tulang, kulit, maupun kotoran.

Meskipun begitu, hingga kini belum ada kasus manusia tertular melalui sentuhan atau kontak dengan orang yang mengidap antraks.

Antraks biasa ditularkan kepada manusia disebabkan pengeksposan kepada hewan yang sakit atau hasil ternakan seperti kulit dan daging, atau memakan daging hewan yang tertular antraks.

Selain itu, penularan juga dapat terjadi bila seseorang menghirup spora dari produk hewan yang sakit misalnya kulit atau bulu yang dikeringkan.

Siapkan Vaksin

Langkah awal dilakukan pemerintah setempat, telah dibentuk tim terpadu dari lintas instansi dan telah memusnahkan dua ekor sapi yang terindikasi mengidap bakteri antraks.

Menurut Harris bahwa pemusnahan ternak sapi yang terindikasi antraks dengan cara dibakar.

"Kami bergerak cepat dan menindak tegas sapi yang sakit atau terindikasi antraks, agar tidak dijual oleh pemilik sapi dan dagingnya dikonsumsi masyarakat," ucap Haris.

Apalagi dalam seminggu terakhir ini tercatat telah 36 sapi di lokasi tersebut terindikasi terkena antraks.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Gorontalo telah menyiapkan sebanyak 5.000 dosis vaksin antraks, sebagai antisipasi penyebaran bakteri yang menyerang puluhan sapi di daerah itu.

Salah satu tenaga dokter hewan dari Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, Asriana Dunggio mengatakan, untuk permintaan awal pihaknya meminta vaksin untuk 5.000 ekor ternak yang akan disuntik.

"Sebenarnya jumlah tersebut belum mencukupi karena 5.000 dosis baru hanya untuk pemberian vaksin di lokasi terjadinya kasus antraks, yaitu di Desa Ulapato dan Lupoyo," katanya.

5.000 dosis vaksin yang untuk sementara disimpan di Kantor Dinas Peternakan Provinsi Gorontalo.

"Selain itu, Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo juga memerintahkan kami untuk berkoordinasi dengan pihak kampus Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMG) Jurusan Peternakan, untuk mengirim mahasiswanya untuk dilatih dan turun ke lapangan saat pemberian vaksin untuk sapi" ungkapnya.

Pemerintah membutuhkan bantuan dan kerja sama dari masyarakat untuk memberikan vaksin dan pengobatan ternak mereka.

"Untuk sapi yang sehat saat diberi vaksin akan kebal terhadap bakteri antraks, jika sapinya sakit akan kita obati dulu dan menunggu dua minggu untuk melihat reaksinya," tutupnya.

Di sinilah peran pemerintah daerah untuk mengatasi dan memutus rantai penyebaran antraks, karena kalau tidak ditangani secara optimal, dampaknya akan meluas dan masyarakat harus berhati-hati dengan kondisi ini. ( - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, Sebagai upaya memerangi peredaran Narkoba di Indonesia, khususnya di Gorontalo, Pemerintah Provinsi rencananya akan menggelar pemeriksaan darah dan rambut bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkup pemerintah provinsi.

 

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, meminta kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi, untuk segera menyiapkan anggaran, untuk pelaksanaan tes urine, tes darah, dan tes rambut bagi ASN dilingkup pemerintah provinsi Gorontalo.

 

“saya akan libatkan pihak BNN Provinsi Gorontalo untuk melaksanakan pemeriksaan ini,” Kata Rusli Habibie.

 

Dipilinya untuk pemeriksaan darah dan rambut, untuk mencari keakuratan dari pengguna yang sudah kecanduan dengan Narkoba, sebab jika hanya melakukan tes urine, dalam beberapa hari sudah tidak bisa terdeteksi.

 

Rusli menegaskan bahwa, jika ada yang ditemukan, maka orang tersebut perlu dipertimbangkan untuk tidak boleh dicalonkan lagi menjadi pimpinan di lingkup pemerintah provinsi Gorontalo.

 

“sanksi terberat orang tersebut perlu dipecat,”tegas Rusli Habibie.

 

Gubernur Rusli Habibie, sejak dari awal masa kepemimpinan telah mewanti-wanti bagi ASN yang ingin coba-coba bermain dengan barang haram tersebut, apalagi jika ada ASN yang menjadi pengedar.

 

Tak hanya persoanal Narkoba, Ia juga melarang keras bagi ASN pengkonsumsi berat Alkohol, sehingga pemerintah pun telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Minuman Keras (Miras). - humas

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, menegaskan bahwa kepada pejabat daerah dilingkup Pemeritah Provinsi Gorontalo, yang menggunakan kendaraan dinas wajib memberi tumpangan kepada warga yang membutuhkan pertolongan.

 

“jika menjumpai ada warga sekitar yang sakit, atau yang mengalami kecelakaan, mohon kiranya untuk diberi tumpangan,” Kata Rusli Habibie, saat menggelar apel cek fisik 317 unit kendaraan dinas dilingkup Pemerintah Provinsi Gorontalo.

 

Ia menambahkan, begitu juga ketika melihat siswa/siswi baik hendak ke sekolah maupun akan pulang kerumah, dan dijumpai mereka jalan kaki, mohon kiranya bagi mereka untuk diberi tumpangan.

 

Khususnya kepada dinas atau instansi yang pekerjaanya banyak di lapangan, yang melakukan monitoring pekerjaan, di wilayah-wilayah terpencil, dimana jarak sekolah dengan pemukiman masyarakat disana cukup jauh.

 

“mereka adalah penerus bangsa, dan kewajiban kita juga melindungi dan memberikan pelayanan kepada mereka,” tegas Rusli.

 

Dalam kesempatan itu, Rusli Habibie, juga meminta kepada pejabat yang menggunakan kendaraan dinas, untuk senantiasa menjaga kondisi fisik kendaraan sehingga penggunaanya bisa lebih lama.

 

Namun yang terpenting, lanjut Rusli bahwa, penggunaan kendaraan dinas ini memang benar-benar digunakan untuk kebutuhan kerja dalam rangka menunjang pelaksanaan program pemerintah, dan bukan digunakan untuk kepentingan pribadi.

 

“hati-hati jika saya temui, kendaraan dinas yang tidak digunakan untuk kebutuhan kerja kantor, namun hanya dipakai oleh keluarganya,” ujar Rusli Habibie.(humas)

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Setelah dua warga di Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo menjadi terduga (suspect) anthrax, pemerintah kabupaten setempat semakin menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat untuk waspada penyakit itu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Roni Sampir, Rabu mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat akan waspada bakteri yang ada di ternak sapi itu.

"Kami meminta agar masyarakat semakin waspada anthrax, beberapa hari sebelumnya, kami pernah menemukan warga yang menyembelih sapi yang sakit dan terindikasi anthrax, namun masih saja dibagikan dan dikonsumsi, hal tersebut sangat berbahaya," ucapnya.

Roni mengatakan, hal tersebut terjadi di lokasi yang sama seperti ditemukannya dua warga terduga anthrax, yaitu di Pentadio Barat.

"Anthrax ada tiga jenis, 2 warga yang sudah diduga terkena anthrax terkena anthrax kulit, dengan memberikan antibiotik dan penangan yang cepat serta daya tahan tubuh yang bagus, akan sembuh," kata Roni.

Ia berharap, setelah mendapatkan hasil dari laboratorium, dua warga Pentadio Barat yang kini dirawat di Rumah Sakit Aloe Saboe Gorontalo hanya menderita anthrax kulit saja.

Dalam seminggu terakhir tim dokter hewan dari Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, telah melakukan pengobatan dan vaksinasi kepada sapi ternak warga di daerah yang diduga menjadi tempat penyebaran bakteri anthrax di Ulapato A dan Lupoyo Kabupaten Gorontalo.(Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo
© 2019, Pemerintah Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kelurahan Botu
Kota Gorontalo - Gorontalo