>

Ketua TP PKK Provinsi Gorontalo Idah Syahidah mendorong agar metode pengobatan tradisional yang ada di Gorontalo tetap dilestarikan. Menurut istri Gubernur Gorontalo Rusli Habibie itu, Di tengah arus moderenitas medis, pengobatan tradisional merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat.

“Jauh sebelum orang mengenal motode pengobatan dengan peralatan canggih, masyarakat kita sudah menggunakan pengobatan tradisional. Alhamdulillah orang tua kita dulu juga hidup sehat dan panjang umur dengan metode pengobatan tradisional,” kata Idah saat membuka Training of Trainer Asuhan Mandiri Kesehatan Tradisional yang digelar oleh Dinas Kesehatan, Senin (12/3).

Kegiatan yang dihadiri oleh para fasilitator pengobatan tradisional dari kabupaten/kota ini diharapkan dapat memasyarakatkan kembali pengobatan alternatif pada masyarakat. Ada beragam media pengobatan yang dilakukan di antaranya dengan motode pijat dan konsumsi bahan bahan herbal atau jamu.

Pada kegiatan tersebut dipraktekkan bagaimana teknik pijat yang mampu menyembuhkan beragam penyakit. Pijat dilakukan dengan menyentuk titik-titik syaraf yang sensitif seperti pada bagian telapak kaki, telapak tangan, leher dan kepala.“Pengobatan tradisional ini kan sudah mulai punah. Sudah tidak banyak lagi yang menggunakan bahan bahan herbal maupun teknik pijat untuk mengobati orang yang sakit. Oleh karena itu pengobatan ini perlu terus dimasyarakatkan kembali” sambung Bunda PAUD itu.

Idah menilai pengobatan tradisional lebih aman, sebab tidak menggunakan bahan kimia sebagai material obat. Selain itu, pengobatan ini terbilang murah karena hanya memanfaatkan tenaga manusia dan tumbuhan yang biasanya ada di pekarangan rumah sekitar.

Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo sebetulnya pernah membuka klinik mandiri untuk pengobatan tradisional. Klinik tersebut terpaksa ditutup karena kurang peminat dan belum tersosialisasi dengan baik. Melalui pelatihan ini diharapkan klinik tersebut kembali dibuka bahkan hingga ke kabupaten dan kota.(Hmsprov-valen).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
Selasa, 06 Maret 2018 11:55

Jangan Kucilkan ODHA

Gorontalo – Masyarakat diminta untuk tidak mengucilkan para penderita ODHA ( Orang Dengan HIV AIDS). “Mereka (penderita ODHA) adalah manusia seperti kita juga, jangan pernah mengucilkan, justru kita harus mensupport agar mereka bisa bertahan hidup yang lebih lama lagi,” papar Ketua Tim Asistensi Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Gorontalo yang juga Ketua TP. PKK Provinsi Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie saat memberikan materi pembekalan masalah AIDS pada pelantikan dan launching UKM Mahasiswa Peduli AIDS (MPA) STIMB dan STIKES Gorontalo, Senin (5/3) Di Kampus STIMB Kota Gorontalo.

Idah menjelaskan, orang yang terkena HIV/AIDS bukan dihindari, justru mereka butuh motivasi dan semangat hidup dari kita. “Bukan orangnya yang dihindari, namun yang harus dihindari adalah bagaimana kita tidak melakukan perbuatan yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit tersebut,” urai Idah.

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, hingga saat ini, tercatat 363 orang penderita HIV/AIDS di Provinsi Grontalo. Penyakit AIDS penularannya kebanyakan melalui hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, melalui jarum suntik pada pemakai narkoba yang sudah terinfeksi AIDS, transfusi darah juga dari air susu ibu.

Di depan mahasiswa Idah menitip pesan agar sosialisasi bahaya AIDS yang telah mereka peroleh pada hari itu bisa diimplementasikan dan disebarkan kepada masyarakat luas agar tidak ditemukan lagi penderita penyakit AIDS yang baru. Acara sosialisasi peduli HIV/AIDS ini diikuti oleh ratusan mahasiswa dari kedua pergurun tinggi tersebut.(Hmsprov-Burhan).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Untuk mencegah penularan HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo yang semakin banyak, Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi menggadeng mahasiswa sebagai agen pencegah menularnya virus mematikan itu.

Salah satunya dengan mengukuhkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Peduli Aids di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Bisnis (STIMB) Bina Mandiri dan Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Bina Mandiri, Senin (5/3). Pengukuhan dilakukan oleh Ketua KPA Gorontalo Idris Rahim didampingi Ketua Asistensi KPA Idah Syahidah.

Idris Rahim mengemukakan, hingga saat ini sudah ada 363 orang yang positif mengidap HIV/AIDS di Gorontalo. Salah satu penyumbang terbesar yakni mahasiswa dengan 26 kasus. Oleh karena itu butuh keseriusan dari semua pihak untuk mencegah agar penularan HIV/AIDS tidak semakin bertambah.

“Memang angka tersebut diyakini masih jauh dari kondisi rill masyarakat mengingat epidemic HIV-AIDS mengikuti pola “fenomena gunung es” yang dalam artian nampak dipermukaan hanya sebagian kecil. Ini yang patut kita cegah, jangan sampai penderita yang sudah terinfeksi virus yang hingga sampai saat ini belum ada obatnya bisa bertambah.,” kata Idris

Lebih lanjut Wakil Gubernur Gorontalo itu menjelaskan, berbagai program sedang digiatkan untuk memerangi virus mematikan itu. Di antaranya dengan membuat Peraturan Daerah nomo 5 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS serta melaksanakan sosialisasi pada populasi beresiko dan populasi umum.

“Kami juga rutin membentuk kader-kader di tingkat remaja untuk mengetahui secara komprehensif penularan HIV-AIDS pada usia 15-24 tahun, seperti apa yang kita lakukan di kampus ini. Kami juga rutin melakukan penyebaran informasi dengan memanfaatkan media massa dan jejaring sosial untuk pusat informasi AIDS daerah,” bebernya.

Idris mengapresiasi kerjasama yang baik dari STIMB dan STIKES Bina Mandiri yang telah memfasilitasi terbentuknya UKM Mahasiswa Peduli Aids. Ia berharap mahasiswa menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa dari bencanan HIV dan Aids.(Hmsprov-Ecyhin).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Ketua Asistensi Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Gorontalo Idah Syahidah menyebut jika kasus HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo hingga Maret 2018 mencapai angka 363 orang. Rinciannya 161 orang pengidap HIV dan 202 pengidap AIDS.

Jika dilihat dari sebaran penderita berdasarkan profesi, KPA mencatat ada 86 orang yang tidak diketahui profesinya dan 85 orang lain pengidap berstatus wiraswasta. Mahasiswa menempati urutan ke tiga terbanyak yakni sebanyak 32 orang di bawah IRT 30 orang dan PNS sebanyak 26 orang.

“Itu angka yang terdata sejak tahun 2001. Ada kecendrungan setiap tahun terus bertambah meski ada juga yang sudah meninggal dunia,” kata Idah saat menjadi narasumber pada dialog kesehatan yang digelar oleh Radio Suara Rakyat Hulondhalo bertempat di GOR Nani Wartabone, Minggu (4/3).

Tingginya pengidap HIV/AIDS di daerah membuat KPA harus bekerja keras untuk melakukan konseling dan pendampingan kepada para pengidap. Menurutnya, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) perlu diberikan semangat agar tetap menjalani hidup seperti orang pada umumnya.

“Mereka sudah cukup menderita dengan penyakitnya. Jangan lagi ditambah dengan perlakuan orang yang cenderung mendiskreditkan dan memusuhi mereka. ODHA bukan berarti dunia sudah kiamat, asal mereka mau sembuh dengan pola hidup sehat, insya Allah ada harapan hidup,” terang istri Gubernur Gorontalo Rusli Habibie itu.

Idah berharap agar warga lebih peduli dengan penyebaran HIV/AIDS. Di antaranya dengan tidak bergonta ganti pasangan, tidak mengkonsumsi narkoba serta menggunakan alat kesehatan yang bersih dan steril.

Berdasarkan data KPA Provinsi Gorontalo, Pengidap HIV/AIDS terbesar ada di Kota Gorontalo dengan 141 orang. Disusul oleh Kabupaten Gorontalo 73 orang dan Kabupaten Boalemo 48 orang. Sementara untuk Kabupaten Pohuwato, Bone Bolango dan Gorontalo Utara masing masing 41, 38 dan 22 orang.(Hmsprov-isam).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menggelar Jalan Sehat Nasional di Gorontalo sebagai rangkaian memperingati hari ulang tahun (milad) yang HMI ke-71, Minggu (11/2). Jalan sehat ini diikuti ratusan kader-kader HMI yang mengambil star dari Lapangan Damhil UNG dan finish di lapanga Taruna Remaja, Kota Gorontalo. Selain itu, ada juga aksi donor darah dari para kader dan alumni HMI.

Jalan sehat dimulai sekitar pukul 07.00 WITA yang dilepas oleh Ketua Dewan Penasehat Majelis Nasional KAHMI Ir. Akbar Tanjung. Turut hadir Sekretaris Daerah Winarni Monoarfa dan Ketua KAHMI Gorontalo Rustam Akili beserta jajarannya.

Kegiatan ini menjadi ajang reuni para aktivis Hijau-Hitam se-Gorontalo dan dari daerah lainnya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahmi sesama anggota HMI, KAHMI dan FORHATI se Indonesia.

Sekretaris Daerah Winarni Monoarfa atasnama pemerintah provinsi mengucapkan terima kasih telah memilih Gorontalo sebagai pelaksana jalan sehat. Ia meminta agar seluruh kader HMI bersatu padu bersama pemerintah membangun daerah.

“Dengan jalan sehat ini mari bangun sinergitas antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, seluruh organisasi HMI, KAHMI, dan FORHATI sehingga dinamika pembangunan Gorontalo akan lebih maju dan lebih makmur lagi,” kata Winarni.

Hadirnya ratusan kader dan alumni HMI ke Gorontalo diharapkan juga semakin memperkenalkan Gorontalo di mata nasional. Termasuk destinasi pariwisata dan delapan program prioritas Pemprov Gorontalo.(Hmsprov-Nova).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Untuk menghindari anak dengan kebutuhan khusus atau disabilitas dari tindak kejahatan, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Gorontalo membekali mereka tentang bahaya narkoba dan kesehatan reproduksi. Kegiatan yang mengambil tempat di Rumah Jabtan Gubernur tersebut diawali dengan senam bersama, Minggu pagi (4/2).

Ketua IWAPI Provinsi Gorontalo Idah Syahidah menjelaskan, anak disabel sangat rentan untuk mengalami kejahatan seksual disebabkan oleh kekurangan fisik mereka. Selain itu, kasus kejahatan narkoba juga kerap terjadi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Banyak anak-anak disable dengan keterbatasanya dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Misalnya melakukan pelecehan seksual kepada mereka atau pun dengan sengaja mencekoki mereka dengan obat-obat terlarang. Nah dengan adanya sosialisasi kali ini, walaupun sederhana, diharapkan mereka bisa peka dan menjaga diri sendiri,” terang Idah.

Menurut istri Gubernur Gorontalo Rusli Habibie itu, kejahatan terhadap anak disabel harus mendapatkan perhatian dari semua pihak. Sebab kejahatan tersebut sering kali sulit terungkap karena anak disabel memiliki kekurangan pada panca indra seperti mendengar, bisu, tuli dan lainya.

“Kegiatan ini juga sebagai rangkaian dari pencanangan HUT IWAPI ke-43 yang jatuh tanggal 10 Februari nanti. Kami ingin berbagi rasa dan lebih peduli lagi terutama pada mereka yang memiliki keterbatasan serta berkebutuhan khusus. Walaupun mereka beda akan tetapi tidak dibeda-bedakan sehingga bisa ikut merasakan kebahagian seperti orang normal lainnya,” harap Idah.

Acara yang bekerjasama dengan KPAP Gorontalo, Dinas Kesehatan dan BNN Provinsi Gorontalo ini diakhiri dengan penyerahan bingkisan kepada anak-anak disabilitas serta makan pagi bersama. Foto bersama dengan ketua dan pengurus IWAPI menjadi pelengkap keceriaan anak anak dan para pengasuhnya.(Hmsprov-Burhan).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo – Sebanyak 17 perguruan tinggi negeri dan swasta se- Provinsi Gorontalo menandatangani MOU Penanggulangan HIV-AIDS di lingkungan kampus pada acara Pencanangan Gerakan Three Zero dan Penandatanganan MoU Kerjasama.

Penandatanganan MoU kerjasama disaksikan Ketua Pelaksana KPA Provinsi Gorontalo yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Gorontalo Anis Naki, Ketua Tim Asistensi KPAP Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie serta Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo Khadijah Thaib, Selasa (30/1) di Gedung Serba Guna David Bobihoe Universitas Muhammadiyah Gorontalo.

Anis mengungkapkan, berdasarkan data resmi nasional dan Departeman Kesehatan RI, hingga akhir tahun 2016 secara kumulatif tercatat 198.219 kasus HIV dan 78.292 kasus AIDS. Di Provinsi Gorontalo berdasarkan laporan kasus yang disampaikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo pada November 2017, terdapat 363 kasus terdiri dari 161 kasus HIV dan 202 kasus AIDS yang sudah tersebar di seluruh kabupaten/kota.

“Angka tersebut menggambarkan sepertiga dari jumlah penduduk Provinsi Gorontalo dalam ancaman kehidupan yang buruk dan diyakini masih jauh dari kondisi riil di masyarakat, mengingat HIV dan AIDS mengikuti pola fenomena gunung es yang nampak dipermukaan hanya sebagian kecil,” jelas Anis.

Mantan Kepala Kesbang Provinsi Gorontalo ini menambahkan, sebagian besar kasus AIDS terdapat pada kelompok usia 20-29 sebesar 50 % dan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 29,6 %. Data tersebut menunjukkan bahwa ada suatu ancaman serius terhadap keberlangsungan generasi muda bangsa Indonesia kedepan.

” Dengan adanya MoU yang ditandatangani PTN dan PTS se-Gorontalo, dapat menjadi komitmen bersama dan dilaksanakan sepenuhnya sehingga mampu mereduksi dan mencegah penularan HIV AIDS di kalangan masyarakat terlebih dilingkungan perkampusan,” urai Anis Naki.

Hal senada disampaikan Ketua Tim Asistensi KPAP Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie. Menurutnya dengan adanya penandatanganan MoU PTN dan PTS se-Provinsi Gorontalo tersebut, setidaknya bisa memperkecil dan mencegah penularan epidemik HIV AIDS khususnya di kalangan mahasiswa.
Menurut Idah gerakan three zero ini dipandang penting sebagai simbol gerakan bersama seluruh komponen masyarakat untuk sadar bahaya HIV AIDS.

Gerakan Three Zero tersebut terdiri dari zero infeksi baru yang berarti tidak ada kasus HIV yang baru, setiap orang mampu melindungi dirinya agar tidak tertular HIV dan tidak menularkan kepada orang lain. Kedua yaitu zero kematian terkait HIV AIDS yang berarti tidak ada yang meninggal karena AIDS dan yang ketiga zero stigma yaitu tidak ada diskriminasi terhadap ODHA.(Hmsprov-Burhan).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO – Akumulasi kasus HIV/Aids di Provinsi Gorontalo sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2001 hingga November 2017 telah mencapai 363 penderita. Dari penemuan kasus HIV/Aids pada tahun 2017 yang berjumlah 103 orang, 57 persen diantaranya ditularkan melalui perilaku seks tidak sehat, yaitu perilaku Lelaki Seks Lelaki (LSL).

“Penemuan kasus pada tahun 2017 ini paling banyak ditularkan lewat perilaku Lelaki Seks Lelaki sebanyak 57 persen, heteroseksual baik seks bebas maupun seks halal ada 33 persen, dan sisanya 10 persen ditularkan melalui waria,” ungkap Wakil Gubernur Gorontalo H. Idris Rahim dalam sambutannya pada peringatan Hari Aids Sedunia yang diintegrasikan dengan peringatan Hari Bela Negara tingkat Provinsi Gorontalo tahun 2017 di halaman rumah jabatan Gubernur Gorontalo, Jumat (22/12).

Wagub Idris Rahim selaku Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Gorontalo menambahkan, jumlah pengidap HIV/Aids di Provinsi Gorontalo didominasi oleh laki-laki sebanyak 70 persen dan wanita 30 persen. Sementara berdasarkan kategori usia, umur 15-24 tahun yang umumnya pelajar dan mahasiswa mencapai 32,5 persen, umur 25-49 tahun sebanyak 62,5 persen.

Untuk memecah fenomena HIV/Aids yang ibaratnya fenomena gunung es, Provinsi Gorontalo ditargetkan oleh Kementerian Kesehatan dalam tiga tahun ke depan, minimal dapat memeriksa 117.858 orang pada populasi kunci atau beresiko, ibu hamil, penderita tubercolosis, dan populasi umum. Menindaklanjuti hal itu, pada peringatan Hari Aids Sedunia, KPA Provinsi Gorontalo melakukan sosialisasi dan tes HIV/IMS (Infeksi Menular Seks) di seluruh SKPD Provinsi Gorontalo dan instansi vertikal.

“Ada 42 instansi yang di tes HIV/IMS dengan jumlah yang diperiksa sebanyak 6.371 orang. Dari hasil tes ada 4 orang yang perlu pemeriksaan lanjutan dan 1 orang laki-laki mengidap penyakit sipilis,” ungkap Idris.

Idris berharap, melalui kegiatan sosialisasi dan tes HIV/Aids yang gencar dilakukan oleh KPA Provinsi Gorontalo, dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang penularan HIV/Aids, sehingga secara dini masyarakat dapat menghindari perilaku yang beresiko terjangkit virus mematikan tersebut. Di samping itu Wagub juga mengingatkan sekaligus mengajak masyarakat Gorontalo khususnya kalangan generasi muda untuk bergaul secara sehat dan tidak terjerumus pada perilaku yang bertentangan dengan budaya dan ajaran agama, seperti halnya perilaku LSL.

“Fenomena LSL ini adalah tantangan bagi pemerintah, orang tua, dan masyarakat untuk lebih memberi perhatian, mendidik, dan menanamkan nilai-nilai budaya dan agama kepada anak-anak kita, agar mereka tidak terjerumus pada perilaku negatif tersebut,” pungkas Idris.(Hmsprov-Haris).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO – Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) memperkenalkan “Senam Tolotidi” sebagai senam wajib dalam setiap kegiatan olahraga. Senam tersebut diluncurkan oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang dihadiri oleh ribuan ASN dan masyarakat setempat di Lapangan Taruna Remaja, Minggu (3/12).

Menurut Rusli, Senam Tolotidi sengaja dibuat agar masyarakat Gorontalo dalam setiap momentum olahraga tidak lagi memakai senam dari daerah luar, melainkan senam yang berasal dari daerah sendiri. Selain diiringi oleh lagu Tolotidi, senam ini juga diiringi oleh lagu daerah Binthe Biluhuta yang menambah keunikan dari setiap gerakan senam yang ditampilkan.

“Senam ini jadi senam khusus di Provinsi Gorontalo. Karena selama ini saya melihat jika ada Car Free Day dan semacamnya, senam yang dilaksanakan hanya Senam Mumereh atau Poco-Poco, itu itu saja. Jadi mulai sekarang kami rubah agar juga masyrakat luas tahu kalo Gorontalo punya senam khas daerah sendiri,” kata Rusli Habibie.

Rusli melanjutkan, jika Gorontalo selama ini memiliki tarian yang khas, lagu daerah yang khas, makanan yang khas maka saatnya juga memiliki senam yang khas. Semua dilakukan untuk melestarikan budaya kearifan lokal daerah.

“Senam itu kan artinya sehat. Agar badan kita segar dan bugar. Jadi saya wajibkan untuk semua OPD dan sekolah sekolah yang ada di Provinsi Gorontalo wajib tahu senam ini,” tambahnya.

Sementara itu Kadis Dikbudpora Weni Liputo sebagai ketua panitia pelaksanaan senam menjelaskan, Jika Tolotidi sendiri memiliki arti sebagai senam goyang yang merupakan perpaduan antara tarian,budaya dan juga lagu khas daerah Gorontalo.

“Senam ini sebenarnya sudah diperintahkan oleh pak gubernur dari tahun 2016 kemarin. Senam ini sejak beberapa bulan yang lalu telah kami sosialisasikan dan hari ini dalam rangka HUT Provinsi Gorontalo ke 17 kami lombakan agar seluruh masyarakat tahu dan hapal dengan gerakanya,” tutur Weni Liputo.(Hmsprov-Ecyhin).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Memanfaatkan hari libur peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh tanggal 1 Desember ini, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie bersama beberapa stafnya menggelar aksi bersih bersih di sepanjang Pantai Bolihutuo, Kabupaten Boalemo, Jumat pagi (1/12).

Gubernur dua periode itu terlihat tidak canggung untuk mengumpul sampah yang terbawa ombak ke pinggir pantai. Di bantu troller sampah, Rusli mendorong kumpulan sampah ke tempat pembuangan untuk dimusnahkan.

Melihat gelagat sang bos yang bersemangat, mau tidak mau mendorog sejumlah staf yang ikut aksi tersebut bekerja lebih semangat. Jadilah liburan Jumat pagi itu menjadi aksi bersih bersih.

“Yaa hitung-hitung cari keringat. Badan sehat, lingkungan bersih” kata Rusli singat.

Rusli Habibie berada di villa pribadinya di Pantai Bolihutuo sejak Kamis kemarin. Ia bersama keluarga memilih tempat tersebut untuk berakhir pekan, setelah sebelumnya Rusli bersama jajaran pemerintah provinsi menggelar Bakti Sosial dan Silaturahmi dengan masyarakat.

Baksos digelar di dua kabupaten yakni di Kecamatan Dengilo Kabupaten Pohuwato dan Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo. Selain menyerahkan bantuan senilai Milyaran Rupiah, pemprov menggelar pengobatan gratis dan pasar murah serangkaian dengan HUT Provinsi Gorontalo ke-17 yang jatuh tanggal 5 Desember nanti.(Hmsprov-Isam).

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
© 2019, Pemerintah Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kelurahan Botu
Kota Gorontalo - Gorontalo