>
×

Peringatan

JUser: :_load: Tidak dapat memuat pengguna denga ID: 128

Gorontalo, Dua warga Kelurahan Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo menjadi terduga (suspect) mengidap anthrax, dan dirawat di Rumah Sakit Aloe Saboe Kota Gorontalo.

Kedua terduga berinisial EA (45) dan SL (23) sudah dirujuk ke rumah sakit untuk menjadi langkah awal pencegahan jika itu memang sudah positif.

"Dengan adanya temuan ini, kami mengimbau kepada masyarakat agar tidak menyembelih hewan ternak yang sakit, karena akan diberikan vaksin kepada sapi ternak yang sehat agar kebal terhadap bakteri anthrax," kata Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, Haris Tome, Rabu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Gorontalo, Roni Sampir mengatakan dari kedua warga tersebut, pihaknya menukan gejala gejala-gejala anthrax.

"Setelah dirujuk di rumah sakit akan kita ambil serumnya dan akan dikirim ke subdit zoonosis di Jakarta untuk diperiksa," ucap Roni.

Roni mengatakan, dari hasil pemeriksaan itu, dapat diketahui jika terduga benar-benar terkena bakteri anthrax.

"Sebenarnya dari gejala yang terlihat, sudah mengarah ke anthrax, namun untuk penegakan diagnostik harus ada gejala klinis dan laboratorium," kata Roni.

Selain itu, Roni juga mengatakan telah melakukan koordinasi lintas sektor bersama Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, dan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo serta Rumah Sakit Aloe Saboe sebagai tempat rujukan untuk kasus anthrax.(Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo
Selasa, 19 April 2016 08:33

Ratusan Anggota TNI Jalani Tes Urine

Gorontalo, 150 anggota TNI Kodim 1304 Gorontalo menjalani tes urine oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Gorontalo di Markas Kodim setempat.

 

Kepala Staf Kodim 1304, Mayor Arm Mansyur Saiu, Senin, mengatakan narkoba sudah sangat meresahkan dan sudah banyak yang menjadi korban.

 

"Bukan hanya kalangan TNI saja yang menjadi korban, namun dari masyarakat luas juga, karena itu untuk melawan narkoba, kami melakukan tes urine kepada seluruh anggota," ucapnya.

 

Mayor Mansyur mengatakan, tiga bulan sebelumnya, Kodim 1304 juga sudah melaksanakan hal serupa.

 

"Mulai dari Komandan Kodim (Dandim) hingga prajurit semua wajib menjalani tes urine, dan apabila ada anggota yang terlibat narkoba, baik pemakai, pengedar ataupun bandar akan dikenakan sanksi berat hingga dipecat," tutupnya.

 

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Gorontalo, Audi Rudolf Jantu, mengatakan untuk di Kodim 1304 telah dua kali menggelar tes urine.

 

"Sasaran tes urine kali ini adalah seluruh jajaran Kodim 1304, khususnya para Komandan Rayon Militer (Danramil), dari 388 anggota yang sempat hadir 150 anggota karena jarak tempuh dari Koramil-Koramil yang cukup jauh," ungkapnya.

 

Sementara itu, untuk tahun 2016, Audi mengatakan, alat test yang dimiliki BNN Kota Gorontalo berjumlah 1.800 dan yang digunakan baru 400 alat. (Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, BPJS Kesehatan Provinsi Gorontalo menanggung pembayaran 26.113 kasus penyakit kronis kecil di Rumah Sakit Aloei Sboe sejak tahun 2014 hingga Februari 2016.

 

Kepala Unit Manajemen Pelayanan Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan Olivia Sampouw mengatakan angka tersebut merupakan kasus yang masuk dalam kategori Rawat Jalan Tindak Lanjut (RJTL).

"Jumlah ini khusus Rumah Saki Aloe Saboe, belum termasuk 12 rumah sakit pemerintah dan swasta lainnya di Gorontalo," ungkapnya di Gorontalo, Kamis.

Ia mencontohkan jenis Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain adalah hipertensi dan diabetes melitus.

 

Dalam daftar diagnosa terbanyak, prosedur rehabilitasi menempati urutan kedua dengan 4.899 kasus, kemudian prosedur dialisis 4.404 kasus, penyakit akut kecil lain-lain 3.551 kasus, penyakit kronis besar 2.504 kasus.

Kemudian juga terdapat prosedur/tindakan pada gigi sebanyak 2.323 kasus, prosedur terapi fisik 1.737 kasus, perawatan luka 1.687 kasus, prosedur ultrasound 1.222 kasus dan gigi 970 kasus.

 

Sementara itu, data dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo pada tahun 2015 menunjukkan tingginya jumlah kunjungan ke rumah sakit terkait penyakit kronis.

"Misalnya untuk hipertensi, itu masuk dalam rangking tiga penyakit yang terbanyak kunjungannya ke rumah sakit yakni 2.167 kunjungan. Itu data belum termasuk rumah sakit swasta," kata Kepala Seksi Pelayanan Dasar Kesehatan dan Rujukan Dikes Provinsi Gorontalo Nisma Abdurrahman.

 

Sedangkan diabetes melitus menempati urutan tujuh dengan 383 kunjungan dan diabetes melitus Tipe II sebanyak 386 kunjungan. (Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Berdasarkan data dari Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo, sebanyak 31 sapi di Desa Ulapato A dan Lupoyo terinfeksi virus antrax.

 

Haris salah seorang petugas Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo, Kamis, mengatakan bahwa kasus itu ditemukan karena adanya laporan dari warga, ada ternak sapi peliharaan mereka yang mati mendadak.

" Kami melakukan pengecekan di lapangan dan menemukan ada sisa darah sapi yang telah dipotong dan dijual kepada pedagang, yang ternyata setelah dites berinfeksi Antrax," Kata Haris.

 

Dia menjelaskan, ternyata kasus tersebut bukan untuk pertama kali ditemukan, sebab berdasarkan keterangan warga sudah banyak sapi yang dipotong dan dijual kepada pedagang, yang mati secara mendadak.

Menurut Haris, jumlah sapi yang terinfeksi masih akan bertambah, data yang ada sekarang ini merupakan temuan dan laporan peternak maupun warga, apalagi di daerah ini terdapat sekitar 2000 ekor sapi.

Menurutnya, untuk penanggulangan sudah banyak yang kita lakukan, pertama kita isolasi lokasi ternak atau sapi yang terkena antrax di Ulapato A dan Lupoyo Kabupaten Gorontalo, jangan sampai menyebar ke tempat lain.

 

"Selanjutnya kita bangun posko dilokasi yang terinfeksi antrax, dan kita lakukan uji sampel berulang-ulang," ucapnya.

Haris mengatakan, di kota Gorontalo, tim dari Balai Maros menemukan sampel daging sapi yang terkena antrax dan dijual di Pasar Sentral Kota Gorontalo.

 

"Menurut pedagang, asal sapi tersebut dari daerah Luhu, Kabupaten Gorontalo, yang dibeli dari warga diwilayah tersebut," lanjut Haris.

 

Haris juga mengatakan, sekarang pihaknya turun kelapangan dengan Dinas Kesehatan, karena sapi yang kena antrax dapat berbahaya, salah satu contohnya jika darah sapi antrax terkena kulit manusia akan menimbulkan penyakit kulit.(Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, Kepala Seksi Pelayanan Dasar Kesehatan dan Rujukan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Nisma Abdurrahman mengatakan penyakit dalam merupakan penyebab meninggalnya pasien tertinggi di Rumah Sakit.

 

Dari data tahun 2015 tersebut, pasien penyakit dalam yang meninggal kurang dari 48 jam sebanyak 130 orang dan lebih dari 48 jam ada 192 orang.

 

" Angka ini merupakan pasien yang rawat inap di 7 rumah sakit umum daerah yakni Aloei Saboe, MM.Dunda, Otanaha, Pohuwato, Tani dan Nelayan, Toto Kabila, dan RS Zainal," ujarnya di Gorontalo, Kamis.

 

Sementara itu, dari segi jumlah kunjungan di RS yang tertinggi adalah penderita tuberculosis sebanyak 3.584 kali, kemudian presbiopi 2.428 kali, hipertensi 2.167 kali, stroke dan hemoragik 1.608 kali, Myopi 778 kali, essential hypertensia 1.124 kali.

 

Selain itu kunjungan untuk diabetes melitus 383 kali, diabetes melitus Tipe II 386 kali, tuberculosis tanpa komplikasi 939, dan dyspepsia 261 kali.

 

Menurutnya penderita tuberculosis di Gorontalo menunjukkan angka yang tinggi, seiring dengan perubahan gaya hidup, pola makan dan kebersihan lingkungan.

 

" Diabetes melitus juga menjadi perhatian kami, karena penderitanya cukup banyak," imbuhnya.

 

Pada Hari Kesehatan Dunia tahun 2016, pencegahan diabetes menjadi hal utama yang dikampanyekan bersama Kementrian Kesehatan hingga ke dinas dan World Health Organization (WHO).(Debby Hariyanti Mano - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten GorontaloUntuk menciptakan lingkungan keluarga tanpa Narkoba.

 

Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk Advokasi Pembangunan berwawasan Anti Narkoba dilingkungan Tim Penggerak PKK Kabupaten Gorontalo tahun 2016

 

Kepala BNN Kabupaten Gorontalo Sardjon Dunggio, Rabu, mengatakan kegiatan itu akan dilakukan di 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo. "Kegiatan Advokasi Pembangunan berwawasan Anti Narkoba akan melibatkan seluruh PKK kecamatan dan PKK desa," ucap Sardjon. Untuk materi yang dibawakan, Sardjon lebih menekankan pada Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Narkotika (P4GN).

 

"Organisasi PKK lebih menyentuh kepada anak didik mereka, selain kita melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah," tambahnya.Sementara itu, Ketua PKK Kabupaten Gorontalo Fory Naway mengatakan peran keluarga dalam upaya pencegahan narkoba sangatlah besar dalam upaya menciptakan keluarga tanpa narkoba.

 

"Upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkoba secara komprehensif adalah melalui pendekatan kita dengan semua pihak, termasuk keluarga. Antara anak dan orang tua harus banyak berkomunikasi, biasakan menegur anak-anak yang sudah melenceng pada pergaulan bebas," ucap Fory.Fory menambahkan, melalui kegiatan tersebut ia berharap PKK sampai tingkat Desa haruslah berperan aktif dalam wilayah masing-masing.

 

"Kalau menemukan dan melihat para pengguna, segera rangkul dan bina mereka dengan memberikan konseling tips untuk hidup sehat. Kita ajak mereka untuk membiasakan hidup sehat hingga tidak terlanjur menggunakan terus yang namanya Narkoba, awasi mereka dan lakukan pendekatan secara humanis," lanjut Fory. (Adiwinata Solihin - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, Masih adanya masyarakat kurang mampu yang belum tercover dalam Jaminan Kesehatan Semesta (Jamkesta) dari Program pemerintah Provinsi Gorontalo, serta jaminan kesehatanya lainya seperti BPJS, diharapkan pihak Rumah sakit agar tetap melayani pasien tersebut.

 

“saya berharap Rumah Sakit dan juga Puskesmas agar dapat melayani dan memberikan pelayanan yang sama, meski mereka belum mendapatkan jaminan kesehatan,” Kata Rusli Habibie.

 

Selanjutnya, pihak keluarga dari pasien boleh langsung menghubungi Gubernur via SMS atau Telephone, atau menghubungi Dinas Kesehatan Provinsi, untuk segera melakukan pengurusan kartu Jamkesta, atau BPJS.

 

Dijelaskannya bahwa, program kesehatan Pemerintah Provinsi yaitu Jamkesta sudah terintegrasi dengan program pemerintah pusat dalamhal ini BPJS, sehingga dimana pun tetap dilayani. “pelayanan kesehatan mulai dari tingkat Puskesmas hingga rujukan ke rumah sakit, dapat terlayani secara gratis,” ungkap Rusli Habibie.

 

Ia menambahkan bahwa semua program jaminan kesehatan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota semuanya terintegrasi dan koordinasi dengan baik.

 

Selain jaminan kesehatan, Pemerintah Provinsi melalui kebijakan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie juga menyediakan Mobil Jenazah gratis, untuk mengantar Jenazah hingga ke wilayah pelosok.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo dan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) setempat, bekerjasama untuk melakukan tes narkoba bagi jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di pemerintahan itu.

 

Para jajaran ASN nanti akan dites atau diambil sampel darah dan rambut, agar bisa diketahui secara optimal hasilnya.

 

"Saya akan bekerjasama dengan BNNP Gorontalo, seluruh aparat baik eselon II dan III akan diuji rambut dan darah, jadi bukan lagi tes urine," kata Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Senin.

 

Dengan pemeriksaan darah dan rambut ini, bagi pengguna narkoba beberapa tahun sebelumnya masih bisa terdeteksi, sehingga uji coba seperti ini akan sangat maksimal dan segera mungkin untuk dilakukan.

 

Jika nanti terbukti, lanjut Rusli, ASN tersebut minimal akan diberhentikan dari jabatanya, maksimal akan dipecat dari PNS di lingkungan Pemprov Gorontalo.

 

"Sejak saya jadi Gubernur, sudah pernah dibuktikan ada PNS yang saya pecat karena pemakai Narkoba," ujarnya. Selain itu, gubernur juga meminta kepada masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam hal pemberantasan narkoba, sebab petugas yang ada sangatlah terbatas.

 

Gubernur juga meminta kepada warga apabila melihat ada masyarakat, khususnya di tempat-tempat kost-kost yang diduga atau dicurigai menggunakan atau sementara transaksi Narkoba untuk dilaporkan.

 

"Terpenting juga bagi orang tua. Keluarga dapat membentengi anak-anak serta saudara kita dari bahaya penggunaan narkoba itu sendiri, sebab peran serta orang tua akan sangat membantu anak dari penyalahgunaan Narkoba," ujarnya. (Farid - Antara News Gorontalo)

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

Gorontalo, Capaian jumlah peserta imunisasi Polio pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) di Kabupaten Gorontalo melebihi target yaitu 30.818 anak dari target awal 29.229 anak.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Noneng Supratina Nasibu di Gorontalo, Senin, mengatakan capaian pelaksanaan PIN Polio 2016 di Kabupaten Gorontalo melebihi target yaitu sebesar 105,4 persen.

"Sesuai dengan data kami, yang harus mendapatkan vaksinasi Polio telah mencapai target, bahkan lebih yaitu, 30.818 anak dari target awal yaitu 29.229 anak berusia 0-59 minggu di 21 Kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo," ucap Noneng.

Pencapaian tersebut didapat dari kerja sama yang melibatkan banyak pihak.

"Pelatihan kita berjenjang dari tingkat Provinsi hingga tingkat Kecamatan, dari pelatihan tingkat Provinsi kita melibatkan PKK untuk mobilisasi sasaran," katanya.

Jumlah peserta imunisasi Polio di Kecamatan Limboto adalah 3.571 anak, Limboto Barat 1.702 anak, Telaga Biru 2.443 anak, Telaga 1.123 anak, Telaga Jaya 1.052 anak, Tilango 1.255 anak, Pilohayanga 694 anak.

Sedangkan di Kecamatan Batudaa Pantai 982 anak, Biluhu 628 anak, batudaa 1.266 anak, Tabongo1.384 anak, Dungaliyo 1.388 anak, Bongomeme 1.414 anak, Tibawa 2.090 anak, Buhu 1.128 anak, Pulubala 1.914 anak.

Beegitu pula di Boliyohuto 1.445 anak, Tolangohula 1.929 anak, Asparaga 1.024 anak, Mootilango 1.556 anak dan Bilato 830 anak. (Adiwinata Salohin - Antara News Gorontalo)

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo

Limboto, Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo secara mendadak menginstruksikan kepada seluruh pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gorontalo untuk dilakukan tes urine guna memastikan ada tidaknya pejabat yang mengkonsumsi Narkoba.

Langkah tersebut dilakukan, seusai pelaksanaan apel Korpri, Senin (21/3), mengingat Indonesia saat ini berstatus darurat Narkoba, dimana keterlibatan pengguna Narkoba sendiri sudah merambah hingga ke dunia pemerintahan yang ada di daerah.

Untuk membuktikan komitmennya bersama Wakil Bupati Fadli Hasan, terhadap pemberantasan mata rantai Narkoba di kalangan Pejabat, keduanya yakni Bupati bersama Wakil Bupati, juga ikut melakukan tes yang sama. "Biar adil dan menjadi contoh buat bawahan," kata Wabup Fadli.

Wakil Bupati Fadli Hasan menegaskan, jika dari hasil tes urine seluruh pejabat eselon II, III, dan IV ditemukan ada yang menkonsumsi Narkoba, maka sanksi tegas akan dikenakan kepada pejabat yang bersangkutan.

"Tes urine tersebut tidak semata untuk memberikan sanksi bagi para pejabat yang terbukti menggunakan Narkoba, tapi ini sekedar ingin membuktikan komitmen kita bersama yang menolak keras segala bentuk penggunaan obat terlarang yang sangat meresahkan kita sekalian," kata Wabup.

Bahkan, menurut Fadli, sesuai dengan apa yang diinstruksikan Bupati, ke depan untuk menduduki satu jabatan harus terlebih dahulu di tes urine sebagai salah satu pra syarat dalam menduduki suatu jabatan.

Kepala BNN Provinsi Gorontalo Purwoko Adi menjelaskan, di Tahun 2016 ini Kabupaten Gorontalo merupakan daerah pertama di Provinsi Gorontalo yang melakukan tes urine untuk para pejabatnya. Hasil tes urine yang dilakukan oleh timnya akan langsung diketahui dalam waktu 15 menit.

"Setelah pengecekan, kami mengawasi pengambilan urinenya, dan hasilnya bisa langsung diketahui," katanya. Dan hasil ini akan dilaporkan kepada Bupati dan wakil Bupati.

Tes urine dilakukan oleh BNN Provinsi Gorontalo bekerjasama dengan BNK Kabupaten Gorontalo. Seusai pemeriksaan, Wakil Bupati melakukan launching Penempelan Stiker Stop Narkoba di kendaraan dinasnya. (mc kab gorontalo/untung/toeb)

Dipublikasikan pada Kabupaten Gorontalo
© 2019, Pemerintah Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kelurahan Botu
Kota Gorontalo - Gorontalo