Lokasi : Suku Bajo dan desanya yang terletak di Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato. Dari Ibu Kota Provinsi Gorontalo

1torosiaje

 

Suku Bajo tak bisa lepas dari laut sekalipun mereka sudah menetap di darat. Ketergantungan mereka dengan laut sangat tinggi. Budaya dan cara hidup mereka masih lekat dengan aroma laut. Bila Suku Bajo merawat laut dengan baik dan mengemas budaya serta cara hidupnya secara menarik, tentu dapat menjadi suguhan wisata yang dapat menjaring wisatawan mancanegara maupun domestik. Begitupun dengan Suku Bajo dan desanya yang terletak di Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato. Dari Ibu Kota Provinsi Gorontalo, para wisatawan berangkat dengan menggunakan mobil ke Desa Wisata Suku Bajo, Kecamatan Popayato lewat darat selama 3 jam. Di desa pesisir, tepian Teluk Tomini ini konon sudah dihuni oleh Suku Bajo sejak ratusan tahun silam.

Konon Suku Bajo berasal dari Laut Cina Selatan. Versi lain menyebutkan nenek moyang mereka berasal dari Johor, Malaysia. Mereka keturunan orang-orang Johor atau keturunan Suku Sameng yang ada di semananjung Malaka Malaysia yang diperintahkan raja untuk mencari putrinya yang kabur dari istana. Orang-orang tersebut mengarungi lautan ke sejumlah tempat sampai ke Pulau Sulawesi. Kabarnya sang puteri berada di Sulawesi, menikah dengan pangeran Bugis kemudian menempatkan rakyatnya di daerah yang sekarang bernama BajoE. Sedangkan orang-orang yang mencarinya juga lambat laun memilih tinggal di Sulawesi, enggan kembali ke Johor. Keturunan mereka lalu menyebar ke segala penjuru wilayah Indonesia semenjak abad ke-16 dengan perahu. Itulah sebabnya mereka digolongkan suku laut nomaden atau manusia perahu (seanomedic).

Suku Bajo datang ke desa ini dengan menggunakan Palema atau rumah di atas Perahu Soppe beratap rumbia yang terapung di laut dan bergerak hanya dengan bantuan dayung. Selama beberapa tahun, mereka tinggal di Palema. pekerjaan utamanya menangkap ikan. Lambat laut, populasinya bertambah. Mereka kemudian ada yang tinggal di darat dengan membuat rumah panggung kayu di atas laut.

Dahulu, di Desa Suku Bajo ini hanya ada puluhan rumah, kini semakin meluas hingga menjorok ke laut. Di Desa Bajo, terlihat deretan rumah bertiang kayu dikelilingi air laut, khas rumah Suku Bajo. Kebanyakan rumah sudah beratap seng, hanya beberapa rumah saja yang masih beratap rumbia dengan dinding dari papan kayu. Beberapa rumah, terlihat sudah tersentuh modernisasi. Ada yang sudah berdinding batu berposelin dengan jendela berkaca. Pada siang hari, perkampungan Suku Bajo ini agak sepi. Pria Suku Bajo dewasa masih melaut, yang tinggal hanya ibu – ibu, orang tua, dan anak-anak. Karena mata pencaharian utama Suku Bajo, yakni menangkap ikan secara tradisional. Mereka juga mulai mengenal tambak terapung dengan membudidayakan Lobster, Ikan Kerapu, dan ikan lokal bernama Bobara. Tambak terapung berada tak jauh dari pemukiman suku bajo. Melihat budi daya tambak terapung bisa menjadi atraksi menarik bagi wisatawan.

Perkampungan Suku Bajo di Desa Bajo Kabupaten Pohuwato memiliki daya tarik untuk menjaring wisatawan. Tinggal di rumah Suku Bajo, ikut melaut lalu menjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Desa Taulo, Kecamatan Mananggu atau melihat bagaimana cara Suku Bajo membudidayakan lobster dan sejumlah ikan di tambak terapung, bisa menjadi kegiatan menarik buat wisatawan yang biasa hidup di perkotaan. Belum lagi budaya masyarakat Suku Bajo, seperti perkawinan dan acara selamatan. Adat Perkawinan masyarakat Suku Bajo, saat malam pertama, biasanya pasangan suami istri baru, di lepas ke laut dengan perahu. Mereka menghabiskan malam pertama di atas perahu. Ini merupakan tradisi yang sangat unik.

Di desa ini juga terdapat Pantai Bajo yang landai. Perairan Pantai Bajo ini berpotensi menjaring wisatawan dengan promosi sebagai wisata diving. Sektor pariwisata di Desa Bajo dapat lebih menarik lagi bila diselenggarakan event budaya seperti Festival Suku Bajo yang menampilkan bermacam kesenian, kuliner, dan juga cenderamata khas Suku Bajo. Masyarakat setempat dalam menerima wisatawan sangat ramah dengan senyum tulus. Termasuk bila wisatawan ingin menginap. Bila potensi Wisata Desa Suku Bajo ini lebih dikembangkan oleh Pemerintah setempat, rasanya ada asa baru buat Suku Bajo Kabupaten Pohuwato. Suku Bajo di Desa Bajo yang hingga saat ini menamakan dirinya dengan sebutuan “Samee” pastinya bakal mendapatkan penghasilan lain selain melaut.

Keistimewaan

Usai menikmati kehidupan Suku Bajo dan Pantai Bajo di Desa Wisata Bajo, Wisatawan juga bisa mampir ke Pantai Bolihutuo, masih di Kecamatan Popayato yang kini diresmikan dengan nama Obyek Wisata Pohuwato Indah. Pantainya sangat indah, landai, berpasir putih, dan lembut. Di pantainya terdapat sejumlah saung dan gazebo untuk beristirahat. Juga dilengkapi 3 rumah makan yang menyediakan aneka seafood dan air kelapa muda

Torosiaje3 17April2010

Akses

Desa Wisata Suku Bajo berada di tepi Teluk Tomini, Kecamatan Popayato. Desa yang dihuni Suku Bajo ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dan kenderaan roda dua dari Ibu Kota Provinsi Gorontalo selama lebih kurang 3 jam. Jika wisatawan menggunakan kenderaan angkutan kota antar Kabupaten (mikrolet) dikenakan biaya transport Rp.25.000 / orang. Setelah berada di Kabupaten Pohuwato, dari terminal Popayato, wisatawan dapat menggunakan kenderaan lokal menuju Desa Wisata Suku Bajo. Bagi wisatawan yang ingin menyewa mobil travel, di Provinsi Gorontalo banyak menyediakan mobil sewaan (rental mobil) dengan biaya antara Rp.300.000 sampai dengan Rp.500.000 per hari.

Lokasi : Taman Laut Olele terletak di Desa Olele Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango

Taman Laut Olele

Jika Anda melakukan perjalanan melalui pesisir pantai selatan Gorontalo, maka anda akan melihat pemandangan yang mempesona, laut biru yang tenang oleh karena berada di daerah Teluk Tomini yang kaya dengan ikannya, dengan pemandangan pantai pasir putih dan perahu nelayan yang berbaris indah. Jika anda singgah di Pantai Olele, dan melakukan penyelaman, maka anda akan melihat pemandangan taman bawah laut yang konon mempunyai kekhasan tersendiri dibandingkan dengan taman laut di daerah lain lain yang telah dikenal, seperti Taman Laut Bunaken atau Taman Laut di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah. Bahkan di sinyalir bahwa Taman Laut Olele ini lebih alami di bandingkan dengan kedua taman laut di atas.

 Menuju desa Olele, anda akan menyisir jalan berkelak kelok, melintasi perumahan penduduk dengan pemandangan yang kontras. Di satu sisi anda terkesima dengan tebing-tebing curam berpohon dan di sisi lain, hambaran laut biru hijau tanpa batas membentang membuat anda tercengang. Pantai Olele merupakan pintu gerbang menuju surga Taman Laut Olele dengan alam bahari yang sangat indah. Para penyelam dunia telah membuktikannya dengan mata sendiri. Mereka menyatakan bahwa sebagian biota laut yang terdapat di sana tidak dijumpai di perairan lain.

Taman laut Olele menyimpan banyak keindahan, diantaranya terdapat Goa Jin dengan ikan-ikan hias, Biota Laut, Terumbu karang yang sehat, padat dan indah, Bunga Karang Raksasa, Beberapa jenis ikan yang langka dan hanya terdapat di perairan teluk tomini. Saat ini, Taman Laut Olele menjadi ikon wisata di Provinsi Gorontalo yang berada di pesisir selatan. Jika berkunjung ke Gorontalo, tak lengkap rasanya kalau Anda tidak mengunjungi lokasi ini. Maklum, ketenaran Pantai Olele menggaung hingga di daerah lain sehingga mendapat julukan Primadona Pantai Selatan.

Terumbu karang yang belum terjamah dihiasi oleh pelangi ikan dan biota laut lainnya. Salah satu terumbu karang langka yang bisa ditemui adalah terumbu yang menyerupai karya seni ukir perupa Picasso dari Itali. Masyarakat menamainya sebagai terumbu karang Picasso. Jika beruntung, penyelam pun dapat bertemu mamalia laut, ikan Lumba-lumba, yang dengan tidak malu-malu menyambut kedatangan penyelam.

Ketika snorkeling, berhati-hatilah dengan sengatan ubur-ubur. Ukurannya yang mini terlihat menarik berwarna warni terutama saat terkena cercahan sinar matahari. Namun jangan khawatir, rasa gatal akan hilang segera kala menyaksikan keindahan surga bawah laut Olele. Bagi yang bukan penyelam, jangan khawatir. Perahu kayu berkaca asli buatan penduduk siap membawa wisatawan berpelesir mengarungi perairan untuk menikmati keindahan tampak atas terumbu karang, ikan-ikan dan biota laut lainnya.

Pantai Olele ini rencananya akan dijadikan tempat Wisata Nasional, karena lokasinya sering dikunjungi oleh turis mancanegara yang melihat keindahan Taman laut Pantai Olele. Keindahan Taman Laut Olele sering dijadikan pusat diving oleh para turis baik lokal maupun mancanegara. Pantai Olele yang memiliki berbagai biota laut ini juga dapat dikembangkan menjadi model objek wisata bahari (ekotourisme) yang bisa mendatangkan wisatawan.

Karena masih dalam tahap pengembangan, di Pantai Olele belum ditemukan adanya penginapan yang difasilitasi bagi para pendatang, atau sarana pendukung wisata lainnya sebagaimana tempat – tempat wisata yang ada di Indonesia, sehingga para pengunjung terkadang harus meminjam kamar warga untuk berganti pakaian usai berenang ataupun menyelam. Mengenai biaya pemakaian tergantung pembicaraan antara pemilik rumah dengan Wisatawan, tetapi biasanya harganya tidak mahal dan relatif terjangkau.

Masyarakat Desa Olele sudah terbiasa dengan keberadaan warga dari luar yang datang mengujungi Pantai Olele. Bahkan masyarakat setempat selalu terbuka tangan menerima tamu dari luar. Masyarakat merasa bangga dengan Pantai Olele yang dijadikan sebagai objek wisata, bahkan masyarakat setempat sudah sepakat untuk memperlakukan tamu dengan sangat hormat dan sopan santun.

Keistimewaan

Taman laut Olele menyimpan banyak keindahan, diantaranya terdapat Goa Jin dengan ikan-ikan hias, Biota Laut, Terumbu karang yang sehat, padat dan indah, Bunga Karang Raksasa, Beberapa jenis ikan yang langka dan hanya terdapat di perairan teluk tomini. Saat ini, Taman Laut Olele menjadi ikon wisata di Provinsi Gorontalo yang berada di pesisir selatan. Jika berkunjung ke Gorontalo, tak lengkap rasanya kalau Anda tidak mengunjungi lokasi ini. Maklum, ketenaran Pantai Olele menggaung hingga di daerah lain sehingga mendapat julukan Primadona Pantai Selatan.

Terumbu karang yang belum terjamah dihiasi oleh pelangi ikan dan biota laut lainnya. Salah satu terumbu karang langka yang bisa ditemui adalah terumbu yang menyerupai karya seni ukir perupa Picasso dari Itali. Masyarakat menamainya sebagai terumbu karang Picasso. Jika beruntung, penyelam pun dapat bertemu mamalia laut, ikan Lumba-lumba, yang dengan tidak malu-malu menyambut kedatangan penyelam.

Ketika snorkeling, berhati-hatilah dengan sengatan ubur-ubur. Ukurannya yang mini terlihat menarik berwarna warni terutama saat terkena cercahan sinar matahari. Namun jangan khawatir, rasa gatal akan hilang segera kala menyaksikan keindahan surga bawah laut Olele. Bagi yang bukan penyelam, jangan khawatir. Perahu kayu berkaca asli buatan penduduk siap membawa wisatawan berpelesir mengarungi perairan untuk menikmati keindahan tampak atas terumbu karang, ikan-ikan dan biota laut lainnya.

Olele 2

Akses

Taman Laut Olele terletak di Desa Olele Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, ± 20 Km dari pusat Kota Gorontalo dan dapat ditempuh dalam waktu ± 21 menit, dapat dijangkau dengan kendaraan darat maupun kendaraan laut. Jika melalui jalur darat, dengan menggunakan kenderaan roda dua atau roda empat melewati jalanan berliku di pinggiran bukit.

Olele 5